Mendukung Indonesia Emas 2045, Malaysia membuka akses studi pascasarjana bagi generasi baru.

Jakarta, Maret.id — Komitmen memperkuat kerja sama di bidang pendidikan tinggi antara Malaysia dan Indonesia kembali digelorakan pada perhelatan World Postgraduate Expo 2026. Dalam acara yang dihadiri pelbagai delegasi pendidikan kedua negara, Chairman Education Malaysia Global Services (EMGS), Ahmad Shalimin Ahmad Shaffie, menegaskan kesiapan Malaysia menjadi mitra strategis untuk membantu terwujudnya visi Indonesia Emas 2045 melalui peningkatan akses studi pascasarjana dan penguatan ekosistem riset bersama.
Ahmad Shalimin menyoroti kebutuhan Indonesia akan kekuatan intelektual berpendidikan tinggi dalam dua dekade ke depan. Menurutnya, negara membutuhkan ratusan ribu lulusan pascasarjana untuk mengakselerasi kegiatan riset, menguatkan kapasitas pembuatan kebijakan publik, dan menciptakan industri bernilai tambah tinggi. Melalui EMGS, pemerintah Malaysia menawarkan berbagai jalur bagi mahasiswa Indonesia, dari program magister dan doktoral hingga skema pembiayaan dan jaringan penelitian lintas universitas.
Latar belakang dan peran Education Malaysia Global Services
EMGS didirikan sebagai badan yang bertujuan memfasilitasi mobilitas pelajar internasional ke institusi pendidikan Malaysia. Strategi ini merupakan bagian dari upaya panjang Malaysia untuk memposisikan diri sebagai regional education hub, yang dimulai sejak akhir abad ke-20 melalui ekspansi universitas negeri dan swasta, serta pembentukan pusat-pusat riset terapan. Pada konteks regional, inisiatif EMGS bukan sekadar mempromosikan program akademik, melainkan juga merancang layanan terpadu seperti proses aplikasi, bantuan visa pelajar, dan dukungan integrasi bagi mahasiswa asing.
Bagi Indonesia, kolaborasi dengan EMGS membuka peluang percepatan kapasitas SDM tingkat tinggi tanpa harus menunggu ketersediaan program domestik yang memadai. Namun demikian, model kerjasama ini menuntut perhatian pada aspek mutual recognition, kualitas program, serta mekanisme transfer pengetahuan agar hasil pendidikan dapat dimanfaatkan optimal bagi pembangunan nasional.
Tawaran program dan keunggulan universitas Malaysia
Dalam pameran, sejumlah perguruan tinggi Malaysia memaparkan keunggulan program studi dan jaringan industrinya. Misalnya, Raffles University menawarkan kombinasi program kreatif dan teknologi — seperti fashion design dan bisnis kreatif — yang dipadukan dengan modul kecerdasan buatan (AI) untuk aplikasi dalam desain dan manufaktur. Mereka menekankan sistem pembelajaran berkelanjutan termasuk peluang sertifikasi lanjutan bagi alumninya.
Sementara itu, Multimedia University (MMU) menonjolkan kekuatan di ranah teknologi informasi dan industri kreatif. Program-program seperti Ilmu Komputer, Kecerdasan Buatan, dan Creative Multimedia didesain berbasis praktik industri, melibatkan kolaborasi dengan studio dan perusahaan animasi. Beberapa alumni universitas tersebut tercatat terlibat dalam produksi animasi populer di kawasan, yang menjadi bukti hubungan kuat antara kurikulum dan kebutuhan pasar kerja.
Implikasi untuk visi Indonesia Emas 2045 dan tantangan kolaborasi
Ambisi Indonesia Emas 2045 menempatkan fokus pada transformasi ekonomi menuju negara berpendapatan tinggi, yang mensyaratkan penguatan kapasitas riset, inovasi teknologi, dan tata kelola publik. Peningkatan jumlah lulusan pascasarjana merupakan salah satu instrumen penting, namun bukan satu-satunya. Kualitas program, relevansi riset terhadap masalah domestik (seperti perubahan iklim, kesehatan, dan ketahanan pangan), serta kemampuan menyerap lulusan ke sektor produktif harus menjadi prioritas.
Kerja sama lintas negara menghadirkan tantangan: pertama, harmonisasi kurikulum dan pengakuan gelar agar lulusan dapat berkontribusi di kedua negara; kedua, pembiayaan studi yang masih menjadi hambatan bagi banyak calon mahasiswa Indonesia; ketiga, potensi brain drain jika tidak diimbangi mekanisme retensi dan kerja sama industri-akademia yang kuat. Selain itu, faktor bahasa dan perbedaan sistem regulasi akademik memerlukan tata kelola yang jelas untuk memperlancar kolaborasi.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, analis pendidikan menyarankan beberapa langkah: pengembangan program joint-degree antara universitas Indonesia dan Malaysia, peningkatan skema beasiswa yang ditargetkan untuk riset prioritas nasional, dan pembentukan pusat riset bersama yang fokus pada isu-isu strategis regional. Selain itu, perjanjian bilateral terkait pengakuan gelar dan mobilitas akademis perlu segera diperkuat.
Rekomendasi kebijakan dan langkah ke depan
Menghadapi kebutuhan jangka panjang, pemerintah dan perguruan tinggi Indonesia disarankan memandang kemitraan dengan Malaysia sebagai peluang mempercepat kapasitas riset nasional melalui pendekatan “brain circulation”—alih-alih sekadar mengirim pelajar ke luar negeri. Beberapa rekomendasi praktis meliputi:
- Fasilitasi program pertukaran dan co-supervision untuk tesis lintas institusi, sehingga pengetahuan dan jaringan riset lebih mudah beredar.
- Skema beasiswa terkoordinasi antara negara dan sektor swasta yang diarahkan pada bidang prioritas (AI, perubahan iklim, kesehatan masyarakat, teknologi pangan).
- Penguatan kebijakan reintegrasi alumni internasional agar lulusan pascasarjana yang kembali memiliki peluang riset dan karier yang memadai di dalam negeri.
- Peningkatan kapasitas infrastruktur penelitian domestik melalui proyek bersama dan investasi pada fasilitas laboratorium kelas dunia.
Kesimpulannya, tawaran Malaysia melalui EMGS di World Postgraduate Expo 2026 membuka peluang nyata bagi percepatan pengembangan tenaga ahli Indonesia. Namun efektivitas kerjasama ini akan bergantung pada strategi nasional yang memprioritaskan kualitas riset, keberlanjutan pendanaan, dan kebijakan yang mendorong pemanfaatan hasil pendidikan bagi pembangunan nasional. Jika dikelola secara sinergis, kemitraan pendidikan antara kedua negara berpotensi menjadi pilar penting dalam upaya mewujudkan target Indonesia Emas 2045.





