Nasional

Gita Wirjawan Ajak UHN Tegal Rencanakan Kepemimpinan Baru

Jakarta, Maret.id — Mantan Menteri Perdagangan periode 2011–2014, Gita Wirjawan, mendesak agar orientasi kepemimpinan nasional ditata ulang. Ia menyatakan bahwa bangsa ini harus berhenti berfokus pada elektabilitas dan popularitas, tetapi beralih pada integritas, kapabilitas, dan etikabilitas.

Desakan ini disampaikannya dalam kuliah umum pada Public Lecture Series dalam rangka Dies Natalis ke-1 Universitas Harkat Negeri (UHN) di Tegal, pada Senin (22/6). Tema yang diangkat adalah “What It Takes: Asia Tenggara, dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global”.

Rektor UHN, Sudirman Said, dalam sambutannya menggarisbawahi bahwa masalah bangsa ini bukan terletak pada kelangkaan modal, melainkan pada kurangnya keberanian berpikir besar dan kejujuran dalam menilai kepemimpinan. “Bangsa ini tidak kekurangan modal. Yang sering hilang justru keberanian berpikir jauh ke depan dan kejujuran menilai kualitas kepemimpinan kita sendiri,” ucap Sudirman.

Sudirman juga mengajak audiens untuk belajar dari pengalaman Singapura, yang berhasil bertransformasi dari negara dunia ketiga menjadi dunia pertama dalam waktu 40 tahun. “Selalu ingat pesan dari Pak Gita Wirjawan mengenai betapa krusialnya melakukan investasi besar dalam dunia pendidikan,” ungkap Sudirman.

Gita Wirjawan menegaskan bahwa Indonesia memiliki semua modal yang diperlukan untuk memimpin kawasan. Namun, ia menekankan bahwa modal tersebut tidak berarti tanpa keberanian. “Untuk jadi bangsa yang diperhitungkan di ASEAN, kita punya banyak modalitas. Wilayah yang luas, penduduk besar, dan sumber daya alam yang melimpah,” kata Gita.

Ia menambahkan, “Yang diperlukan adalah keberanian menerobos batas, keberanian tampil sebagai bangsa beradab.” Gita mengajak agar Indonesia mengikuti jejak bangsa-bangsa kuat lainnya yang mengedepankan moral, intelektual, dan etika.

Gita juga menyoroti bahwa cara bangsa ini memilih pemimpin sering kali diabaikan. Obsesi pada angka survei, menurutnya, telah menggeser ukuran kepemimpinan dari yang seharusnya. “Kepemimpinan mendatang haruslah ditata ulang. Kita tidak boleh mabuk pada elektabilitas dan popularitas, tetapi harus bergeser untuk melihat integritas, kapabilitas, dan etikabilitas,” tegas Gita.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button