Wapres tiba di Ponpes Bahrul Ulum untuk bersilaturahmi dan berdialog dengan para kiai sepuh

Jombang, Maret.id — Wakil Presiden Gibran Rakabuming melakukan kunjungan silaturahmi ke Ndalem Kesepuhan dalam kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Minggu, 10 Mei 2026. Kunjungan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan ziarah ke makam Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah dan bagian dari keikutsertaan Wapres dalam peringatan haul ke-55 sang ulama besar. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Gibran berbincang bersama para kiai sepuh dan keluarga besar pesantren, menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat hubungan dengan institusi pesantren.
Latar belakang haul dan jejak historis K.H. Abdul Wahab Chasbullah
Peringatan haul merupakan tradisi penting dalam komunitas pesantren di Indonesia sebagai bentuk penghormatan terhadap para pendiri dan ulama yang dianggap berjasa. Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah adalah tokoh sentral dalam sejarah keagamaan Jawa dan nasional; ia dikenal sebagai salah satu pendiri organisasi keagamaan besar yang berperan dalam perkembangan Islam tradisional di Indonesia dan pembentukan jaringan pesantren modern. Pondok Pesantren Bahrul Ulum di Tambakberas sendiri telah menjadi pusat pengajaran agama dan budaya lokal selama beberapa generasi, menghasilkan santri dan pemimpin yang berkontribusi pada kehidupan sosial-keagamaan di tingkat regional maupun nasional.
Tradisi haul di pesantren seperti Bahrul Ulum umumnya meliputi ziarah ke makam, pembacaan doa dan yasin, kajian kitab, serta kegiatan sosial yang mempertemukan warga pesantren dan masyarakat sekitar. Momentum haul ke-55 ini tidak hanya bersifat ritus keagamaan, tetapi juga menjadi ruang rekonsiliasi nilai, transfer pengetahuan antara generasi tua dan muda, serta penguatan jaringan sosial di antara ulama, santri, dan pengurus pesantren.
Detail kunjungan: pertemuan di Ndalem Kesepuhan
Setibanya di Ndalem Kesepuhan, Wapres disambut oleh keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum, termasuk tokoh-tokoh keluarga pesantren dan para kiai sepuh. Suasana pertemuan digambarkan penuh keakraban; dialog berlangsung hangat antara Wapres dan pimpinan pesantren yang membahas peran pesantren dalam membentuk karakter bangsa dan kontribusinya terhadap pembangunan sumber daya manusia. Beberapa tokoh keluarga pesantren yang hadir antara lain anggota keluarga pewaris tradisi pesantren serta pengurus utama yang selama ini melanjutkan tugas pendidikan di pesantren tersebut.
Pertemuan tidak hanya bersifat seremonial: Wapres meluangkan waktu untuk berdiskusi secara informal dengan para kiai, menerima masukan terkait kebutuhan pendidikan pesantren, dan menegaskan dukungan pemerintah terhadap keberlanjutan peran pesantren dalam pembinaan moral dan keagamaan. Interaksi semacam ini juga menunjukkan keinginan pemerintah untuk menjaga sinergi dengan institusi keagamaan yang memiliki kapasitas membina kehidupan sosial di akar rumput.
Implikasi sosial-politik dan perspektif kebijakan
Kunjungan Wapres ke pesantren besar di Jombang memiliki sejumlah dimensi penting. Pertama, secara simbolis kunjungan tersebut menggarisbawahi pengakuan negara atas posisi strategis pesantren sebagai institusi sosial yang mempengaruhi budaya politik dan moral masyarakat. Kedua, secara praktis dialog dengan pesantren membuka ruang bagi penguatan program-program pembangunan yang melibatkan pesantren, khususnya dalam hal pendidikan vokasional, pelatihan kepemimpinan, dan pengembangan sumber daya manusia sesuai prioritas pemerintah.
Beberapa pengamat menilai bahwa pertemuan ini juga berkontribusi pada pembentukan citra kepemimpinan yang dekat dengan tradisi keagamaan dan berupaya merangkul berbagai komponen masyarakat. Dalam konteks Pemilu dan dinamika politik nasional, kunjungan semacam ini bisa dilihat sebagai upaya memperkuat hubungan antara eksekutif dan jaringan ulama, namun para analis menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pendekatan politik dan penghormatan terhadap otonomi pesantren agar hubungan ini tidak mengikis independensi lembaga keagamaan.
Peran pesantren dalam pembangunan karakter dan SDM unggul
Pesantren tradisional seperti Bahrul Ulum selain mentransmisikan ilmu agama juga berperan besar dalam pembentukan karakter generasi muda. Kurikulum pesantren yang menggabungkan kajian kitab klasik, pembinaan akhlak, dan kehidupan berjamaah menjadi modal sosial yang penting bagi pembangunan masyarakat. Pemerintah, melalui sejumlah kebijakan, telah mendorong integrasi program pesantren dengan pelatihan kejuruan, literasi digital, dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas pesantren.
Dalam percakapan dengan pimpinan pesantren, Wapres menekankan harapan agar kiprah generasi muda dapat semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Pesantren diharapkan tidak hanya memproduksi ulama dan hakim moral, tetapi juga menjadi pusat peningkatan kompetensi teknis yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja modern. Sinergi antara pemerintah dan pesantren, bila dijalankan secara konsisten, dapat mempercepat transformasi sumber daya manusia menuju kualitas yang lebih tinggi tanpa mengabaikan nilai-nilai keagamaan dan kultural.
Analisis dan tantangan ke depan
Menguatnya hubungan antara pejabat negara dan otoritas pesantren membawa peluang sekaligus tantangan. Peluangnya meliputi akses sumber daya bagi pesantren, peningkatan kapasitas pendidikan, dan penguatan program sosio-ekonomi yang berakar pada komunitas pesantren. Tantangannya mencakup risiko politisasi institusi keagamaan, perbedaan prioritas antara modernisasi pendidikan dan pelestarian tradisi, serta kebutuhan memastikan bahwa bantuan dan kerja sama benar-benar berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan warga pesantren.
Para pengamat kebijakan publik menyarankan agar interaksi antara pemerintah dan pesantren difokuskan pada program-program konkret: pelatihan guru ngaji, pembiayaan pengembangan perpustakaan pesantren, akses infrastruktur teknologi, dan program kewirausahaan berbasis pesantren. Langkah-langkah ini akan lebih berdampak ketimbang sekadar kunjungan simbolis apabila diikuti dengan rencana implementasi dan evaluasi yang jelas.
Penutup
Kunjungan Wakil Presiden Gibran ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum di Jombang pada kesempatan haul K.H. Abdul Wahab Chasbullah menegaskan kembali posisi pesantren sebagai mitra sosial dan budaya penting bagi negara. Pertemuan ini membuka peluang dialog yang konstruktif antara pemerintah dan pengasuh pesantren tentang arah kebijakan pendidikan, pemberdayaan generasi muda, serta penguatan harmoni sosial. Keberlanjutan sinergi tersebut akan bergantung pada kemampuan kedua pihak untuk menerjemahkan komitmen menjadi program nyata yang memperkokoh peran pesantren dalam pembangunan nasional.





