Nasional

Kemeninves Gandeng Australia Perkuat Investasi Hilirisasi

Jakarta, Maret.id — Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menilai hubungan ekonomi antara Indonesia dan Australia sedang memasuki fase penguatan. Ia menilai implementasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) semakin memperkokoh kerja sama kedua negara.

“Kedua negara memiliki ekonomi yang saling melengkapi, didukung oleh kerangka kerja sama IA-CEPA yang semakin matang,” kata Todotua. Ia menambahkan bahwa pemerintah terus melakukan reformasi kebijakan untuk memperbaiki iklim investasi.

Dalam pertemuan Indonesia-Australia Business Summit for Indonesia Updates 2026 di Sydney, Todotua mengajak investor Australia untuk memperluas investasi di sektor hilirisasi, infrastruktur, ketahanan pangan, energi, dan ekonomi hijau. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi masing-masing negara.

Kunjungan kerja Todotua berlangsung dari 29 hingga 30 Juni 2026, diawali dengan pertemuan bersama Kamar Dagang dan Industri (KADIN) di Indonesia Investment Promotion Center Sydney. Pertemuan tersebut diikuti dengan diskusi dengan Pure Battery Technologies, untuk membahas investasi dalam industri baterai nasional.

Pemerintah menilai investasi ini penting untuk melengkapi rantai pasok industri baterai di Indonesia, yang saat ini telah memiliki fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) dan segera memiliki manufaktur sel baterai. “Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda,” ujarnya.

Todotua juga menegaskan bahwa investasi dari Pure Battery Technologies merupakan langkah krusial dalam membangun ekosistem baterai nasional yang terintegrasi. Diskusi lain juga dilakukan dengan BCI Minerals mengenai investasi hilirisasi garam industri, dengan fokus pada pemenuhan bahan baku dan nilai tambah mineral nonlogam.

Di hari berikutnya, Todotua menjadi pembicara utama dalam Indonesia-Australia Business Summit, dengan tema penguatan sistem pangan dan infrastruktur yang berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah menetapkan 28 komoditas strategis dalam program hilirisasi nasional, dengan potensi investasi mencapai USD618 miliar hingga 2040.

“Hilirisasi merupakan inti transformasi ekonomi Indonesia. Kebijakan ini diperkirakan akan menciptakan lebih dari tiga juta lapangan kerja langsung,” imbuhnya. Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI II) yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Hindia.

“ALKI II merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui perdagangan substansi penting mencapai nilai tinggi,” ucapnya. Dengan potensi ini, ia melihat peluang untuk meningkatkan rantai pasok, logistik, dan investasi antara Indonesia dan Australia. Kementerian Investasi dan Hilirisasi berharap kerja sama ini dapat mendorong investasi berkualitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button