Kemendikdasmen Akui Penurunan Anak Tidak Sekolah Lambat

Jakarta, Maret.id — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengakui bahwa upaya menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan.
Dalam enam tahun terakhir, penurunan jumlah ATS belum menunjukkan hasil yang signifikan meski berbagai program sudah diluncurkan.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menyatakan bahwa pemerintah sedang menyiapkan model baru untuk Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Ini merupakan salah satu strategi untuk mempercepat penanganan ATS, terutama bagi anak-anak yang mengalami kesulitan mengakses pendidikan formal.
“Sehingga pemerintah menyiapkan model baru Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sebagai strategi untuk mempercepat penanganannya,” ujar Fajar di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.
Ia menambahkan, ada banyak faktor yang menyebabkan anak putus sekolah atau tidak pernah mengenyam pendidikan. Faktor tersebut meliputi kendala ekonomi, kondisi geografis, serta persoalan sosial yang menghalangi mereka mengikuti pembelajaran secara reguler.
Kemendikdasmen terus berupaya mencari pendekatan yang lebih fleksibel agar setiap anak tetap dapat memenuhi hak atas pendidikan. Model PJJ ini diharapkan dapat menjangkau kelompok rentan, seperti anak di daerah terpencil dan wilayah kepulauan, serta mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas.
Selain memperluas akses pendidikan, pemerintah juga mendorong adanya kolaborasi dengan pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan pemangku kepentingan untuk mendata serta mengembalikan ATS ke dalam sistem pendidikan.
Pendataan yang akurat dipandang sebagai kunci agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran. Kemendikdasmen menekankan bahwa penanganan ATS menjadi prioritas nasional dalam mewujudkan pemerataan pendidikan di Indonesia.





