UNAS Tembus 35 Guru Besar, Perkuat Riset AI dan Inovasi Nasional

Jakarta, Maret.id — Universitas Nasional (UNAS) telah mengukuhkan tiga Guru Besar baru sebagai upaya untuk memperkuat kapasitas riset dan inovasi. Dengan penambahan ini, jumlah Guru Besar UNAS kini menjadi 35 orang dari berbagai bidang keilmuan.
Pengukuhan dilakukan dalam Sidang Terbuka Senat di Auditorium Universitas Nasional. Tiga akademisi yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Erna Ermawati Chotim, M.Si. dalam bidang Sosiologi Ekonomi dan Gender, Prof. Dr. Agung Triayudi, S.Kom., M.Kom. dalam bidang Machine Learning, serta Prof. Dr. Septi Andryana, S.Kom., M.M.S.I. dalam bidang Decision Support and Analytics.
Rektor UNAS, Dr. El Amry Bermawi Putera, M.A., menyatakan bahwa penambahan Guru Besar ini adalah modal untuk memperkuat penelitian, kolaborasi lintas disiplin, dan inovasi yang berpengaruh bagi masyarakat. “Pengukuhan tiga Guru Besar merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi, integritas, dan kontribusi akademik dalam pengembangan ilmu pengetahuan,” ucap El Amry di Jakarta.
El Amry menambahkan bahwa jabatan Guru Besar membawa tanggung jawab yang lebih besar. Para profesor diharapkan menjadi pemimpin keilmuan, menghasilkan riset berkualitas, serta membimbing generasi akademisi berikutnya.
Dia juga menekankan bahwa keberagaman 35 Guru Besar UNAS adalah kekuatan strategis dalam membangun budaya akademik dan kolaborasi penelitian. Keahlian di berbagai bidang diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, dunia usaha, industri, dan pemerintah.
Pencapaian ini juga mendapatkan apresiasi dari LLDIKTI Wilayah III. Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah III, Tri Munanto, S.E., M.Ak., menilai pengukuhan ini menunjukkan komitmen UNAS dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan tata kelola perguruan tinggi.
Tri menjelaskan bahwa tiga kepakaran yang dihadirkan UNAS sangat relevan dengan tantangan pembangunan. Sosiologi Ekonomi dan Gender akan memperkuat perspektif sosial dan humanis, Machine Learning berperan dalam pengembangan teknologi kecerdasan artifisial, dan Decision Support and Analytics berfokus pada pengambilan keputusan berbasis data.
“Kombinasi tiga kepakaran ilmu ini sangat sejalan dengan arah kebijakan kementerian saat ini, yaitu mewujudkan Diktisaintek Berdampak,” tambah Tri.





