Nasional

Kemenag: Spirit Kiai Wahab Hasbullah Sangat Relevan untuk Memperkuat Pesantren dan NKRI!

Jakarta, Maret.id — Kementerian Agama Republik Indonesia menegaskan pentingnya menghidupkan kembali semangat perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah. Sosok yang dikenal sebagai pendiri fondasi penguatan moderasi beragama ini juga sangat berperan dalam transformasi pesantren dan penguatan nilai kebangsaan.

Dalam sebuah acara bedah buku yang membahas mengenai KH. Abdul Wahab Hasbullah, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menyampaikan bahwa buku berjudul “KH. Abdul Wahab Hasbullah: Pendiri NU Penggerak NKRI” bertema “The Mastermind of Movement” ini mengungkap seni kepemimpinan inklusif dan dialektika moderasi yang ditunjukkan oleh tokoh tersebut.

Peran Strategis Pesantren

Menteri Agama menekankan bahwa pesantren merupakan institusi pendidikan asli Indonesia yang telah terbukti eksistensinya sepanjang waktu. Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam menjaga moralitas bangsa serta mencetak kader pemimpin yang memiliki jiwa nasionalisme dan keislaman.

Dalam sambutannya, Nasaruddin menyebutkan bahwa pemerintah saat ini sedang memperkuat kelembagaan pesantren melalui transformasi Direktorat Jenderal Pesantren di dalam Kementerian Agama. Langkah yang diambil bertujuan agar pesantren dapat berkembang menjadi pusat inovasi, pemberdayaan ekonomi umat, dan institusi pendidikan yang berstandar global.

Pentingnya Teladan KH. Wahab Hasbullah

Menag menyoroti pentingnya meneladani pemikiran dan perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah dalam membangun pendidikan Islam yang moderat dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Ia menunjukkan bahwa pemikiran Kiai Wahab harus terus diadaptasi untuk menghadapi tantangan kontemporer seperti intoleransi dan kekerasan.

Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, sejalan dengan pernyataan Menteri Agama, menjelaskan bahwa perjuangan sejarah Indonesia tidak terlepas dari kontribusi pesantren dan tokoh-tokoh seperti Kiai Wahab. “Saat membicarakan Indonesia dan pesantren, tidak lengkap jika tanpa menyebutkan Kiai Wahab Hasbullah,” ujarnya.

Basnang pun menilai warisan pemikiran Kiai Wahab sangat relevan dan diperlukan dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul di masyarakat saat ini. Keluarga besar KH. Wahab Hasbullah, diwakili oleh Ita Rahmawati, menyebut beliau sebagai “arsitek dialektika moderasi.”

Menjabarkan Pemikiran dan Kepemimpinan

Kiai Wahab dikenal mempunyai kemampuan untuk memadukan nilai keagamaan dan kebangsaan, mengajarkan bahwa moderasi tidak berarti kehilangan pendirian, melainkan kemampuan untuk menempatkan kebenaran di tengah berbagai ekstremitas. Dalam buku tersebut, dijelaskan bagaimana kemampuan Kiai Wahab membangun gerakan sosial-keagamaan secara inklusif dan strategis.

Sebagai salah satu tokoh penting dalam berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926 bersama Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab berperan besar dalam perjuangan Komite Hijaz dan menggagas berbagai gerakan kebangsaan seperti Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathan.

Rektor UIN Jurai Siwo Lampung, Ida Umami, menyatakan bahwa forum bedah buku ini merupakan momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan Kiai Wahab. “Pemahaman tentang pemikiran Kiai Wahab Hasbullah adalah fondasi moderasi, pendidikan, dan kecintaan terhadap NKRI,” tuturnya.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa warisan KH. Abdul Wahab Hasbullah tidak hanya sebatas sejarah, tetapi juga masih relevan dan sangat dibutuhkan dalam konteks keagamaan dan kebangsaan saat ini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button