Jelang Muktamar, Gus Yahya Bahas Tantangan NU Masa Depan

Jakarta, Maret.id — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, menggarisbawahi pentingnya pemahaman identitas NU dan tantangannya dalam menentukan arah masa depan organisasi tersebut.
Dalam acara Bincang-Bincang Menjelang Muktamar Ke-35 NU di Jakarta pada Senin, 24 Agustus 2026, Gus Yahya menyatakan, pembahasan mengenai masa depan NU harus dimulai dengan pertanyaan mendasar mengenai apa itu NU.
“Kalau zaman generasi awal dulu mungkin lebih mudah, walaupun tidak dirumuskan secara eksplisit, orang dengan mudah menandai NU itu apa,” kata Gus Yahya.
Menurutnya, terdapat dua fenomena yang membuat batasan ke-NU-an semakin cair. Pertama, perubahan signifikan dalam batas sosial dan kultural antara warga NU dan non-NU.
“Gus Dur tahun 80-an memperkenalkan wacana tentang pesantren sebagai subkultur dan sekarang sudah enggak ada karena batas sosial, batas kultural sudah hilang semua, sudah lebur,” ujar Gus Yahya.
Fenomena kedua adalah meningkatnya pengakuan identitas NU di masyarakat. Ia mengingat, pengakuan ini sudah terlihat sejak sekitar 2010 saat menjabat sebagai Katib.
Gus Yahya menjelaskan, pada tahun 2010, Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari, menyampaikan hasil survei yang menunjukkan bahwa 47 persen populasi Muslim Indonesia menyatakan diri sebagai warga NU.
Sementara itu, menurut exit poll Pemilu 2004, sekitar 35 persen pemilih dalam daftar pemilih tetap mengaku sebagai warga NU.
Survei LSI Denny JA pada 2005 melaporkan bahwa sekitar 27 persen populasi Muslim menyatakan sebagai warga NU. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 56 persen pada tahun 2023.
“Ini luar biasa. Bayangkan dalam waktu hanya 18 tahun,” ujarnya.
Gus Yahya membandingkan dengan perolehan suara NU pada Pemilu 1955 yang berada di kisaran 18 persen. Selama 50 tahun hingga 2005, angka tersebut hanya meningkat menjadi sekitar 27 persen.
“Dari 2005 sampai 2023, tambahnya lebih dari dua kali lipat. Jadi 56 sekian persen. 2024, Hasanudin Ali dari Survei Al-Farah melakukan survei sendiri, hasilnya 57,2 persen dari populasi Muslim,” jelasnya.
Fenomena meningkatnya pengakuan sebagai warga NU ini menurut Gus Yahya perlu dikaji lebih mendalam. Hal ini menunjukkan identifikasi yang lebih eksplisit, bukan sekadar berdasarkan ciri-ciri kultural.





