Kemenkes Ungkap Bahaya Asap Karhutla Picu ISPA dan Stroke

Jakarta, Maret.id — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan peningkatan kasus penyakit pernapasan seiring dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dampak paparan asap karhutla sangat berbahaya bagi kesehatan.
Asap hasil kebakaran dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, kulit, serta berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. “Asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun,” kata Dr. dr. Then Suyanti, MM, Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes.
Then menambahkan bahwa partikel tersebut dapat memperburuk kondisi ISPA, asma, serta penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), terutama pada anak-anak. “Paparan asap juga meningkatkan risiko penyakit jantung dan tekanan darah pada kelompok rentan,” ungkapnya dalam acara penanganan karhutla di Jakarta, Rabu (26/8).
Kemenkes mencatat peningkatan kasus penyakit saluran pernapasan selama musim kemarau. Data terakhir dari Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) menunjukkan peningkatan signifikan di beberapa wilayah, termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, dan Sumatera Barat.
Kelompok yang perlu mendapatkan perlindungan lebih mencakup anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan PPOK. Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, SKM, M.Kes, menegaskan bahwa pemerintah daerah telah memberikan imbauan terkait aktivitas masyarakat di tengah kabut asap.
Kemenkes juga berkolaborasi dengan dinas kesehatan setempat untuk memperkuat edukasi, pembagian masker, dan pelayanan kesehatan. Selanjutnya, Kemenkes sedang mempersiapkan surat edaran untuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Agama mengenai penyesuaian kegiatan luar ruang saat indeks standar pencemar udara (ISPU) tidak sehat.
“Kondisi ISPU yang tinggi mengharuskan anak-anak untuk tidak melakukan aktivitas di luar ruangan,” ucap Then.





