Nasional

Gus Yahya Tegaskan Jati Diri NU di Jombang Bersama Kader

Jakarta, Maret.id — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, menekankan pentingnya kader menjaga jati diri organisasi dalam menghadapi berbagai dinamika.

Pernyataan ini disampaikan saat Gus Yahya berdialog dengan ratusan kader NU di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum, Peterongan, Jombang, pada Kamis malam (27/8/2026). Acara berlangsung akrab, dipandu oleh KH Amin Said Husni, dimulai dengan pembacaan tahlil oleh KH Luqman Harits Dimyathi Termas dan diakhiri dengan doa oleh KH Ainul Yakin.

Di hadapan para kader, Gus Yahya mengapresiasi keteguhan mereka dalam mempertahankan nilai-nilai perjuangan NU. Ia menekankan, sikap tersebut timbul dari keyakinan yang mendalam terhadap jam’iyah, bukan hanya kalkulasi kepentingan material atau politik. “Saya terkagum-kagum dengan keteguhan panjenengan semua dalam memegang thariqah Nahdlatul Ulama sesuai dengan baiat kita,” ujar Gus Yahya.

Gus Yahya, yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Leteh di Rembang, menyatakan bahwa keteguhan kader merupakan modal penting bagi organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan. Ia menyebut bahwa pendekatan yang hanya didasarkan pada hitungan untung dan rugi tidak cukup untuk menjelaskan keputusan orang-orang yang tetap bertahan dalam situasi sulit.

“Kalau orang hanya menggunakan kalkulasi politik, untung rugi, saya kira tidak mungkin bertahan di posisi ini,” kata Gus Yahya. “Keteguhan ini lahir dari keyakinan yang dalam, bahwa dalam keadaan bagaimanapun, pertolongan Allah SWT senantiasa memandu langkah kita dan menjaga jam’iyah.”

Gus Yahya juga berbagi pengalaman spiritual dan organisatoris yang mencerminkan perjalanan NU dalam menghadapi dinamika terkini. Ia mengingat pertemuannya dengan Abuya Muhtadi pada Juli 2025, di mana Abuya Muhtadi menyampaikan pentingnya menjalankan organisasi berdasarkan kesepakatan yang telah ada, termasuk AD/ART.

Ia juga menerima pesan serupa dari sejumlah kiai dan tokoh sepuh lainnya, yang mengingatkan agar tidak bergeser dari prinsip, tidak menyerah, dan tidak mengambil langkah yang dapat memperuncing perpecahan. “Saya diingatkan tidak boleh bergeser, tidak boleh menyerah, tetapi pada saat yang sama tidak boleh melawan,” ungkap Gus Yahya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button