Kepala MCB Ungkap Inspirasi Mendesak untuk Pembuatan Museum Passport!

Jakarta, Maret.id — Kepala Museum dan Cagar Budaya Indonesia, Indira Estiyanti Nurjadin, mengumumkan peluncuran Museum Passport yang bertujuan untuk menarik minat masyarakat berkunjung ke museum. Program inovatif ini mengusung konsep koleksi analog yang memungkinkan pengunjung mengumpulkan cap kunjungan sebagai kenang-kenangan.
Inspirasi di Balik Museum Passport
Indira menjelaskan bahwa ide di balik Museum Passport terinspirasi dari tradisi mengumpulkan cap perjalanan yang populer sebelum adanya era digital. Ia menyatakan bahwa kebiasaan ini kini kembali diminati oleh generasi muda, terutama Generasi Alpha dan Z, yang menunjukkan ketertarikan terhadap pengalaman analog.
“Tradisi mengumpulkan cap perjalanan kembali memberi ruang bagi nostalgia di kalangan generasi muda. Ini merupakan langkah yang tepat dalam menarik perhatian mereka,” tambah Indira saat konferensi pers di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.
Perluasan Partisipasi Museum di Seluruh Indonesia
Museum Passport akan dapat digunakan di berbagai museum yang tersebar di seluruh Indonesia, mencakup museum pemerintah maupun swasta. Pada saat peluncuran, sejumlah museum di berbagai daerah telah terdaftar untuk berpartisipasi dalam program ini.
“Ini merupakan kesempatan bagi museum-museum lain yang ingin bergabung. Kami menyambut baik partisipasi museum pemerintah daerah dan swasta,” ujarnya.
Untuk memperkaya pengalaman pengunjung, Museum Passport juga dilengkapi dengan peta lokasi museum dan halaman khusus untuk mengumpulkan cap. Konsep ini diharapkan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan pengunjung lokal.
Dukungan dari Kementerian Kebudayaan
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, memberikan dukungan penuh atas peluncuran Museum Passport. Dia mengapresiasi inisiatif yang diambil oleh MCB dan mengingatkan bahwa pendekatan serupa telah diterapkan di berbagai negara untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam budaya.
Fadli menekankan pentingnya Museum Passport di tengah kemajuan digital saat ini. “Masyarakat tetap merindukan produk budaya material yang dapat mereka miliki, sehingga kehadiran Museum Passport sangat relevan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberagaman budaya sangat penting untuk dihadirkan kembali ke dalam kehidupan masyarakat agar tidak kehilangan warisan yang berharga. Museum Passport direncanakan akan tersedia untuk pengunjung mulai bulan Juni 2026.
Dengan peluncuran ini, diharapkan Museum Passport dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai budaya serta sejarah bangsa Indonesia. Program ini tidak hanya melestarikan tradisi kunjungan museum tetapi juga menciptakan ruang bagi interaksi dan pengalaman yang lebih mendalam bagi setiap pengunjung.



