REPUBLIKA KETAHUI ALASAN PENGIRIMAN JURNALIS KE MISI SUMUD FLOTILLA!

Jakarta, Maret.id — Dua jurnalis dari harian Republika dilaporkan hilang kontak di perairan internasional dekat Siprus saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Jalur Gaza. Kejadian ini terjadi pada Senin, 18 Mei 2026, dan mengundang perhatian besar dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan komunitas pers di Indonesia.
Pengiriman Jurnalis ke Misi Berbahaya
Wakil Pemimpin Redaksi Republika, Stevy Maradona, menjelaskan bahwa keputusan untuk mengirimkan kedua jurnalis tersebut berdasarkan pada kompetensi serta kesiapan fisik mereka yang telah dilatih dengan matang. “Kami ingin mencoba masuk melalui jalur laut yang masih terbuka karena blokade bantuan di Gaza masih berlangsung,” ujar Stevy dalam perbincangan dengan media.
Setelah menerima laporan tentang hilangnya kontak, Republika segera menghubungi Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk melaporkan situasi darurat. Selain dua jurnalis tersebut, pihaknya juga melaporkan bahwa sembilan warga negara Indonesia lainnya terlibat dalam rombongan misi kemanusiaan yang sama.
Pentingnya Perlindungan untuk Warga Negara
Stevy menegaskan harapan agar pemerintah segera memberikan pernyataan resmi mengenai kondisi sembilan WNI yang terlibat. Ia berharap pernyataan dari Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Luar Negeri Sugiono dapat segera dikeluarkan. Perlindungan terhadap warga negara yang berada di wilayah konflik harus menjadi prioritas utama pemerintah.
“Saya berharap ada tindakan dari pihak berwenang, bukan hanya untuk dua jurnalis, tetapi juga untuk semua warga negara Indonesia yang terlibat,” tambahnya. Dalam konteks ini, pemerintah Indonesia didorong untuk melakukan langkah diplomasi yang tegas.
Kecaman terhadap Pencegatan Misi
Sikap menolak pencegatan terhadap misi Global Sumud Flotilla juga disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid. Dalam pernyataannya, ia mengingatkan bahwa insan pers berhak mendapatkan keamanan dalam menjalankan tugas mereka, terutama di tengah situasi konflik yang berpotensi membahayakan.
“Keselamatan warga negara Indonesia, terutama para jurnalis, harus selalu menjadi perhatian kita semua. Kami mengikuti dengan penuh keprihatinan kabar yang beredar,” ungkapnya. Dukungan moral dari masyarakat Indonesia mengalir untuk tim relawan yang terlibat dalam misi kemanusiaan tersebut, dengan harapan agar blokade bantuan di Gaza segera berakhir dan akses ke bantuan dapat terbuka kembali.
Kejadian ini menggambarkan risiko tinggi yang dihadapi jurnalis dalam menjalankan tugas peliputan di daerah konflik. Masyarakat diharapkan untuk terus memberi dukungan kepada mereka yang berjuang untuk mengungkapkan kebenaran dan memberikan keadilan bagi mereka yang terdampak oleh konflik.



