Nasional

Harkitnas 2026: UIN Tegaskan Komitmen Jadikan Indonesia Role Model Islam Moderat!

Jakarta, Maret.id — Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada tahun 2026 harus dimaknai lebih dari sekedar seremoni yang mengenang lahirnya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908. Momentum ini perlu digunakan sebagai ajang refleksi bagi bangsa Indonesia untuk mengevaluasi perjalanan bangsa di tengah perubahan global yang semakin kompetitif dan penuh ketidakpastian.

Kebangkitan Nasional Era Digital

Dalam pernyataannya menyambut Harkitnas 2026, Prof. Asep Saepudin Jahar, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, menegaskan pentingnya revolusi pendidikan yang mengarah kepada masa depan. Sebelumnya, kebangkitan nasional pada era kolonial ditandai oleh kesadaran politik dan identitas kebangsaan, sedangkan kebangkitan di abad ke-21 ini ditentukan oleh kemampuan bangsa membangun keunggulan sumber daya manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurutnya, upaya memperkuat solidaritas sosial dan kemandirian nasional sangat penting di tengah perebutan pengaruh global saat ini. “Harkitnas 2026 harus menjadi momentum untuk menetapkan langkah strategis menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Potensi Republik

Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi kekuatan dunia baru. Dalam hal ini, bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, serta posisi geopolitik yang strategis dapat dimanfaatkan untuk menghadapi tantangan global. Namun, semua potensi tersebut tidak akan berarti jika tidak disertai dengan investasi serius dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul.

Prof. Asep menegaskan bahwa kebangkitan nasional harus berawal dari revolusi pendidikan. Pendidikan di Indonesia tidak boleh terjebak pada metode hafalan atau administratif semata, tetapi harus mendorong kreativitas, riset, inovasi, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang berbasis Artificial Intelligence, big data, serta energi hijau.

Capaian Perguruan Tinggi Indonesia

Dalam konteks pendidikan tinggi, Prof. Asep juga menyoroti pencapaian positif perguruan tinggi Indonesia dalam QS World University Rankings by Subject 2026 untuk bidang Theology, Divinity & Religious Studies. Ia menyebutkan bahwa tiga perguruan tinggi Indonesia berhasil masuk dalam 50 besar dunia, yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di peringkat 29, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di peringkat 37, dan Universitas Gadjah Mada di peringkat 45 dunia.

“Capaian ini membuktikan bahwa perguruan tinggi Indonesia, termasuk perguruan tinggi keagamaan, mampu bersaing di tingkat global ketika fokus pada pengembangan keunggulan akademik dan distingsi,” ungkapnya.

Dengan langkah-langkah strategis tersebut, diharapkan Indonesia dapat menuju masa depan yang lebih cerah dan penuh prestasi di pentas dunia.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button