Nasional

Inkopontren Mewaspadai Peran Besar Gus Dur sebagai Pelopor Kemandirian Ekonomi Pesan!

Jakarta, Maret.id — Anggota Dewan Pengawas Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopotren) Manarul Hidayat mengungkapkan peran penting Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, dalam pengembangan kemandirian ekonomi pesantren. Melalui inisiatifnya, Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren) sukses dibentuk pada tahun 1994 untuk mendukung kebutuhan ekonomi pesantren di Indonesia.

Panggilan Gus Dur untuk Mendirikan Koperasi

Dalam sebuah acara Pembukaan Rakernas Inkopontren di Smesco Indonesia, Jakarta pada 20 Mei 2026, Manarul menceritakan bagaimana ia dipanggil langsung oleh Gus Dur untuk turut serta merancang koperasi pesantren di tingkat nasional. Pengalaman ini merupakan bagian dari peran aktifnya dalam mendampingi Gus Dur di berbagai kegiatan organisasi dan kebangsaan.

“Terus dipanggil Kiai, coba bentuk Inkohontren. Berdiri sendiri, tidak di bawah naungan CBM,” ujarnya, mengingat arahan Gus Dur dengan penuh rasa hormat.

Kemandirian Ekonomi Pesantren

Koperasi pesantren didirikan dengan tujuan agar seluruh kebutuhan santri dapat terpenuhi secara mandiri dari lingkungan sekitar pesantren. Konsep ini muncul sebelum maraknya usaha ritel modern yang menyebar di Indonesia. “Kalau seadanya koperasi, biar pesantren maju, semua kebutuhan santri tidak perlu beli dari luar,” kata Manarul, menekankan pentingnya kemandirian pesantren.

Gus Dur juga menekankan pentingnya pengelolaan koperasi yang profesional dan modern. Hal ini menjadikan generasi muda pesantren sebagai pengurus koperasi yang memahami aspek ekonomi sebagai salah satu keharusan. “Ketua koperasi jangan pengasuh pesantren, tetapi anaknya yang mengerti ekonomi, syukur kalau ada yang sarjana,” tuturnya.

Peluang dan Tantangan Kerja Sama Ekonomi

Manarul juga mengenang kesuksesannya dalam menyelesaikan pembangunan Gedung PBNU yang sempat terhenti selama bertahun-tahun. Ia menambahkan bahwa Inkopontren pernah menjalin kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok, yang membuka kesempatan bagi distribusi produk melalui jaringan koperasi pesantren nasional. “Insyaallah 25 persen produk dari RRC akan melalui Inkopontren,” ujarnya optimis.

Namun, rencana kerja sama tersebut terhalang oleh perubahan politik setelah lengsernya Gus Dur dari jabatannya sebagai presiden. “Sehingga begitu Gus Dur lengser, saya 50 miliar pun batal, yang tadinya untuk produk juga batal,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Manarul menilai pesantren memiliki potensi ekonomi yang besar untuk mendukung pembangunan nasional, mengingat saat ini terdapat sekitar 42 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia. “Lembaga pendidikan di dunia yang sangat sempurna adalah lembaga pendidikan pesantren di Indonesia,” serunya.

Lulusan pesantren, menurutnya, tidak hanya berperan sebagai ulama, tetapi juga sebagai birokrat, pengusaha, aparat keamanan, dan politisi. “Tidak semua alumni pesantren jadi Kiai, jadi tentara, jadi polisi, jadi kolomerat, jadi politisi,” tambahnya.

Dengan pemikiran ke depan, Manarul mengingatkan bahwa jika anak-anak pesantren tidak dibekali dengan pemahaman ekonomi yang baik, masa depan ekonomi Indonesia bisa terancam. Ia berharap koperasi pesantren dapat menjadi kekuatan ekonomi umat dan memperkuat kesejahteraan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button