Menkeu Purbaya: Indonesia TIDAK AKAN Alami Krisis 1998 Meski Rupiah Melemah!

Jakarta, Maret.id — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak khawatir dengan potensi terjadinya krisis ekonomi. Hal ini disampaikan menyusul situasi nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.
Kondisi Ekonomi yang Lebih Kuat
Purbaya menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan kondisi saat krisis moneter tahun 1998. Menurutnya, depresiasi rupiah saat ini jauh lebih terkendali. “Dulu, rupiah melemah drastis, tetapi sekarang ini hanya 4-5 persen. Itu jauh lebih baik,” tuturnya dalam konferensi pers di Istana, pada hari Jumat, 22 Mei 2026.
Purbaya percaya bahwa persepsi pasar berkontribusi besar terhadap tekanan terhadap nilai tukar. Ia menambahkan bahwa pasar kadang-kadang bereaksi pada sentimen yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya. “Tekanan ini lebih banyak dipengaruhi oleh cara pandang para pelaku pasar,” ucapnya.
Pemerintah Hadapi Tekanan Eksternal
Mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini juga mengingatkan bahwa pemerintah saat ini menghadapi berbagai tantangan dari luar negeri. Banyak faktor eksternal seperti indeks MSCI dan lembaga pemeringkat yang terus memperhatikan kondisi ekonomi Indonesia. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa basis ekonomi domestik tetap stabil.
“Serangan bertubi-tubi dari luar bisa terlihat, tetapi dari sisi fundamental, tidak ada masalah. Kemenangan tetap di sisi kita,” tambahnya. Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan terus memantau dan merespons dinamika yang terjadi di pasar dengan tepat.
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
Dalam konteks pasar valuta asing, nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS dengan volatilitas tinggi. Dalam perdagangan yang berlangsung pada Kamis, 21 Mei 2026, rupiah ditutup melemah sebesar 0,40% ke level Rp17.670.
Pelemahan mata uang rupiah juga sejalan dengan depresiasi mata uang lainnya di Asia. Yen Jepang dan yuan China juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Menurut data terbaru, yen melemah sebesar 0,11%, yuan turun sebesar 0,01%, dan dolar Singapura serta won Korea Selatan masing-masing melemah sebesar 0,20% dan 0,51%.
Purbaya menekankan pentingnya memantau pergerakan ini dan siap menghadapi berbagai perkembangan yang mungkin terjadi di masa depan. Pemerintah, kata dia, akan terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi demi kesejahteraan masyarakat Indonesia.





