Nasional

Herman Mengungkap Mengerikannya Penahanan oleh Tentara Israel: Banyak Relawan Alami Cedera Berat!

Jakarta, Maret.id — Relawan asal Indonesia, Herman Budianto, mengungkapkan pengalaman menyedihkan selama ditahan oleh militer Israel saat mengikuti misi Global Sumud Flotilla. Dalam keterangan pers di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Minggu, 24 Mei 2026, Herman mengisahkan bahwa banyak rekannya yang mengalami cedera serius selama penangkapan hingga masa penahanan.

Penyiksaan yang Brutal dan Tidak Manusiawi

Herman menyatakan bahwa lebih dari 40 relawan mengalami cedera berat, termasuk patah tulang dan luka tembak. “Banyak sekali yang mengalami cedera-cedera berat, rusuk patah. Ada sekitar 40 orang yang menderita patah tangan, patah kaki, patah hidung,” tuturnya. Ia menekankan bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pasukan pertahanan Israel (IDF) sangat keji dan brutal, berlangsung selama sekitar empat hari proses penahanan.

Selama penahanan, Herman juga mengungkapkan adanya dugaan pelecehan seksual terhadap beberapa relawan. Hal ini disampaikan baik pada relawan laki-laki maupun perempuan yang terlibat dalam misi kemanusiaan tersebut. “Kondisi penahanan sungguh sangat tidak manusiawi. Kami diperlakukan bak hewan,” ungkapnya.

Kondisi Penahanan yang Memprihatinkan

Herman menjelaskan bagaimana para relawan harus menghadapi kekerasan fisik dan kondisi penahanan yang buruk. Makan dan tidur dalam keadaan basah, serta tidak memiliki selimut, menjadi hal yang umum selama mereka ditahan. “Kami pun tidur di lantai yang tidak ada selimut, tidak ada, dalam kondisi basah dan baju basah,” lanjut Herman.

Relawan tersebut juga mengalami perlakuan keras, di mana mereka dipaksa untuk merangkak dan tidak diperbolehkan menatap wajah petugas. “Kami harus berjalan dengan selalu menunduk, tidak boleh menatap mereka,” tambahnya.

Aksi Global Menanggapi Situasi Para Relawan

Pengalaman yang dialami Herman dan rekan-rekannya ini memicu berbagai reaksi dari masyarakat dan lembaga internasional. Banyak pihak menyerukan agar keadilan ditegakkan bagi para relawan yang mengalami kekerasan. Dalam situasi yang semakin memanas ini, organisasi kemanusiaan global mengharapkan adanya tekanan dari pemerintah untuk menghentikan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah tersebut.

Situasi ini tidak hanya menarik perhatian domestik tetapi juga global, dengan banyak aktivis dan lembaga internasional berusaha mengupayakan langkah-langkah hukum atas tindakan brutal yang dialami oleh Herman dan rekan-rekannya. Kesaksian Herman diharapkan dapat membuka mata dunia terhadap situasi yang dialami para relawan dalam misi kemanusiaan dan mendorong upaya untuk menyuarakan kebebasan serta hak asasi manusia.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button