Mika Godts Bersinar di Ajax, Sementara Satu Pemain Terpuruk dengan Nilai 2!

Jakarta, Maret.id — Pada musim 2025/26, Ajax Amsterdam mengalami kegagalan yang menyakitkan, merampungkan kompetisi di posisi kelima VriendenLoterij Eredivisie dan hanya sekadar lolos ke babak kualifikasi Conference League. Musim yang seharusnya penuh harapan ini telah berakhir dengan menorehkan catatan buruk di ajang Eropa dan internal manajemen yang tidak stabil.
Performa Buruk di Liga Champions
Tim yang diasuh oleh John Heitinga tampil mengecewakan di babak grup Liga Champions. Malangnya, mereka tidak meraih satu poin pun, mengakhiri perjalanan Eropa dengan hanya enam poin setelah Fred Grim mengambil alih sebagai pelatih untuk tiga pertandingan terakhir. Pergantian pelatih yang terjadi dalam footprint musim ini menunjukkan krisis kepercayaan di dalam organisasi klub.
Menjalani Musim Penuh Ketidakpastian
Situasi di Eredivisie pun tidak beranjak lebih baik. Ajax memulai musim ini dengan performa buruk, termasuk hasil negatif melawan tim promosi untuk mencuri perhatian. Heitinga dicopot dari jabatan pelatih pada bulan November, digantikan oleh Grim yang juga akhirnya dipecat pada bulan Maret. Peralihan ke tangan Óscar García tidak memberikan dampak signifikan, dengan performa bagus Ajax dapat dihitung dengan jari dan harapan untuk kembali berkompetisi di Liga Champions semakin menjauh.
Evaluasi Pemain, Nilai yang Menyedihkan
Sebagian besar pemain Ajax pada musim ini meraih penilaian di bawah rata-rata. Dari Maher Carrizo hingga Oleksandr Zinchenko dan Takehiro Tomiyasu, para debutan ini kesulitan untuk berkontribusi secara signifikan dalam kompetisi. James McConnell, misalnya, mendapatkan nilai 2/10 setelah dipinjam dari Liverpool, karena angin segar yang diharapkan tidak terwujud selama masa peminjamannya. Raúl Moro dan Owen Wijndal lebih lanjut menyusul dengan nilai 3/10, menegaskan bahwa kedatangan mereka tidak memberikan hasil yang positif bagi skuad.
Ajax menyaksikan beberapa pemain seperti Ko Itakura dan Youri Regeer yang tidak mampu menampilkan permainan yang diharapkan. Penilaian buruk tercatat untuk kedua pemain ini dengan skor 4/10. Meski ada sedikit harapan dari Oliver Edvardsen dan Josip Sutalo, yang mendapatkan nilai 5/10, mereka juga mengizinkan ketidakberdayaan tim yang lebih besar menyelimuti musim.
Memasuki babak play-off, Ajax berharap ada perbaikan, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa kegagalan itu adalah kesalahan struktural yang parah. Hasil-hasil minor dari pemain seperti Kenneth Taylor dan Davy Klaassen mencerminkan kerugian yang harus ditanggung oleh tim dalam mengembangkan program yang kompetitif.
Mika Godts, yang dinobatkan sebagai MVP Eredivisie dengan 17 gol dan 15 assist, menjadi sorotan utama. Tanpa kontribusinya, Ajax bisa saja berakhir di posisi lebih rendah. Bagi penggemar, harapan tersisa kini sangat tipis, dan langkah kedepan akan membutuhkan redefinisi cara kerja dan filosofi di dalam klub. Musim yang kelam ini memberi sinyal tegas bahwa reformasi mendalam diperlukan agar Ajax kembali menjadi raksasa di kancah Eropa.





