Di Maria Hancurkan Harapan Manchester, Derby Angkara Penuh Kekecewaan!

Jakarta, Maret.id — Angel Di Maria, mantan bintang Manchester United, mencurahkan perasaannya mengenai masa-masa sulit yang ia alami di Old Trafford. Dalam wawancara eksklusif dengan BBC Sport, Di Maria tidak ragu untuk mengungkapkan rasa bencinya terhadap pengalaman bermain di klub yang penuh harapan tersebut. Meskipun ia merupakan salah satu transfer termahal dalam sejarah Inggris pada saat itu, penyampaian kisahnya menggambarkan perjalanan pahit yang hanya bertahan selama satu musim.
Faktor Van Gaal dan Ketegangan Taktis
Di Maria menyebut hubungan yang buruk dengan manajer Louis van Gaal sebagai faktor utama penurunan kariernya di Manchester. Awalnya disambut sebagai pahlawan, ia segera merasa tertekan oleh metode pelatihan yang kaku dari pelatih asal Belanda tersebut. “Awalnya semuanya berjalan sangat baik,” kata Di Maria, namun ia merasakan perubahan drastis ketika masalah dimulai. Ketegangan ini, menurutnya, dimulai saat Van Gaal hanya fokus pada kesalahan, tanpa memberikan pujian apapun.
Kritik yang konstan dari Van Gaal membuat Di Maria merasa semakin terasing. “Saya merasakan kebosanan dan frustrasi karena hanya menerima kritik yang berulang. Hal ini merusak semangat saya,” ungkapnya, menyoroti betapa buruknya dampak dari pendekatan pelatih terhadap pemain.
Cedera di Luar Lapangan dan Masalah Cuaca
Aspek kehidupan pribadi Di Maria di Inggris juga mendapat sorotan. Insiden percobaan perampokan dirumahnya di Cheshire menjadi bencana tambahan, menyebabkan ketidaknyamanan luar biasa bagi keluarganya. “Cuaca dan lingkungan yang dingin serta gelap sangat mengganggu. Insiden itu membuat hidup saya semakin sulit,” ungkap Di Maria, menyoroti bahwa meski pernah mengalami hal serupa di Paris, kualitas hidup yang lebih baik di Prancis membuatnya merasa lebih aman.
Di Maria menjelaskan bahwa kenyataan hidup di Manchester tidak sebanding dengan Paris. “Saya ingin memprioritaskan keluarga saya. Dalam hal ini, Manchester kurang mendukung,” tegasnya, menunjukkan betapa faktor eksternal berdampak besar pada kondisi mentalnya dan performanya di lapangan.
Perjuangan Sebuah Keluarga untuk Beradaptasi
Istrinya, Jorgelina Cardoso, juga tidak segan mengungkapkan pandangannya mengenai kepindahan mereka ke Inggris. “Saya sama sekali tidak menyukainya. Masyarakatnya terasa aneh, dan makanan yang ada sangat tidak memuaskan,” ungkapnya, menambahkan betapa sulitnya menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda. Jorgelina menyatakan bahwa pengalaman hidup di Madrid jauh lebih mengesankan dibanding Manchester.
Kedua anaknya pun mengalami kesulitan di lingkungan baru mereka. Ketidakpuasan keluarga Di Maria ini menjadi salah satu alasan kuat bagi sang pemain untuk mempertimbangkan masa depannya di klub tersebut.
Tak Ada Penyesalan Meski Itu Mimpi Buruk
Dari segi sepak bola, keadaan semakin memburuk ketika Van Gaal mulai menyingkirkan Di Maria dari susunan utama menyusul kartu merah yang diterimanya dalam pertandingan Piala FA melawan Arsenal. “Saya sudah memberi tahu bahwa saya ingin pergi, dan saya tidak akan kembali ke klub,” tegasnya, menggambarkan saat-saat ketika segala sesuatunya mulai berantakan.
Meskipun menghadapi kesulitan di tingkat domestik, Di Maria menekankan bahwa ia tidak menyesali kepindahannya secara keseluruhan. Ia mengapresiasi hubungan baik yang terjalin dengan beberapa anggota klub. “Ada orang-orang hebat di dalam klub yang selalu memperlakukan saya dengan baik, untuk itu saya bersyukur,” tuturnya, menandakan bahwa meski pengalaman tersebut sulit, ada momen positif yang tetap diingatnya.
Dengan demikian, perjalanan Di Maria di Manchester United bukan hanya sekadar tentang sepak bola. Ini adalah kisah tentang perjuangan, ketahanan, dan pencarian jati diri dalam dunia yang seringkali tidak ramah bagi individu dengan harapan besar.





