Olahraga

Arsenal Dicemooh sebagai Badut, Taktik Mikel Arteta Melawan PSG Dipertanyakan!

Jakarta, Maret.id — Mantan penyerang timnas Prancis, Christophe Dugarry, melontarkan kritik tajam terhadap penampilan Arsenal asuhan Mikel Arteta setelah kekalahan pahit mereka di final Liga Champions 2026 melawan Paris Saint-Germain. Dalam analisisnya, Dugarry menyebut skuad London itu sebagai “sekelompok badut” yang mengedepankan strategis ultra-defensif, serta menganggap mereka datang ke Budapest dengan “ego yang membesar”.

Dugarry Mengkritik Keras Taktik Tak Terkendali Arsenal

Arsenal harus menerima kenyataan pahit ketika mereka ditaklukkan PSG dalam laga final tersebut, kalah melalui adu penalti setelah berakhir imbang 1-1 pada babak perpanjangan waktu. Meski Kai Havertz membuka skor lebih awal pada menit keenam, tim asal London itu justru melanjutkan pertandingan dengan cara bertahan dan menyerahkan penguasaan bola kepada lawan.

Dalam program Rothen S’enflamme di RMC Sport, Dugarry mengungkapkan kekecewaannya terhadap gaya permainan bertahan Arsenal. Ia menegaskan, “Kami melihat defensif yang berlebihan, tim Arsenal yang berusaha mengulur waktu secara sistematis. Itu sangat tidak dapat diterima, dan berbahaya bagi sepak bola serta penggemarnya bahwa mereka menciptakan ilusi bahwa sedikit peluang bisa menghantarkan mereka pada kemenangan Liga Champions.”

Tuduhan terhadap Ego yang Berlebihan

Sebagai pemenang Piala Dunia 1998, Dugarry tidak ragu untuk menyelaraskan kritiknya kepada Arteta dan anak asuhnya. Ia menilai, dengan pendekatan negatif seperti yang ditampilkan, The Gunners seolah telah mengkhianati sejarah kaya klub tersebut di panggung Eropa.

“Mereka adalah sekelompok badut,” tegas Dugarry. “Ego mereka membesar, seiring ucapan Arteta, ‘Kami akan mengalahkan mereka’… Saya sangat gembira Arsenal mendapatkan hasil buruk ini, dan saya berharap jika mereka ingin meraih sukses, mereka harus kembali bermain sepak bola. Ini bukanlah Arsenal! Klub ini memiliki sejarah, dan mereka tidak bisa bermain dengan cara ini, itu mustahil.”

Pakar Pertanyakan Mentalitas Defensif Arsenal

Bukan hanya Dugarry yang mempertanyakan pola pikir defensif Arsenal, mantan gelandang Chelsea, Craig Burley, juga memberikan kritik serupa di ESPN. Ia menunjukkan keanehan bahwa sebuah tim besar cenderung meninggalkan filosofi menyerang setelah mencetak gol cepat.

“Ketika mereka mencetak gol di menit keenam, seharusnya mereka bertahan hingga menit ke-90,” ungkap Burley. “Jika PSG yang mencetak gol lebih dulu, mereka pastinya terus menyerang. Perbedaan pendekatan ini sangat mencerminkan cara kedua tim dalam bermain, bukan hanya dalam final ini, tetapi juga dalam filosofi sepak bola mereka.”

Apa yang Akan Dilakukan Arsenal Selanjutnya?

Dengan kekalahan ini, Arsenal kini harus bangkit dan mempersiapkan diri untuk tur pramusim yang akan datang. Meskipun meraih gelar Liga Premier merupakan pencapaian luar biasa, harapan untuk meraih kejayaan di kancah Eropa masih menguap. Arteta dan jajaran pelatihnya perlu merenungkan pendekatan taktis mereka agar bisa melewati batas kompetisi Eropa pada musim mendatang.

Mentalitas dan strategi menjadi fokus utama yang harus dievaluasi, agar Arsenal bisa kembali ke jalur kemenangan dan membangun kembali reputasi mereka sebagai klub yang dihormati di kancah Eropa.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button