Lamine Yamal baru siap bersinar di Premier League

Jakarta, Maret.id — Ketika talenta muda menyerang muncul di kompetisi Eropa, perbandingan dengan para bintang sepak bola yang lebih senior sering kali tak terhindarkan. Salah satu contohnya adalah Zadok Yohanna, winger berkualitas asal Nigeria yang kini tengah mencuri perhatian.
Di usia baru sembilan belas tahun, Yohanna telah mencatatkan sejarah sebagai pemain termahal yang berpindah dari AIK Swedia ke Brighton dengan transfer senilai 28 juta euro. Ini menjadikannya sebagai penjualan termahal dalam sejarah Allsvenskan.
Keputusan tersebut muncul setelah hanya satu tahun ia berkarier di Swedia. Banyak yang mempertanyakan peran yang akan ia miliki di Premier League musim ini. Yohanna dikenal sebagai winger lincah yang sering menyulitkan para bek lawan saat memotong dari sisi kanan.
Yohanna memulai langkah besar menuju mimpinya menjadi pesepakbola profesional sejak usia 12 tahun. Ia meninggalkan rumahnya di Bauchi, Nigeria untuk bergabung dengan Ikon Allah Football Academy. “Tempatnya sangat jauh dari tempat tinggal keluarga saya, jadi itu sangat berat bagi saya,” ujar Yohanna kepada Aftonbladet. “Pada awalnya saya sering menangis karena merindukan semua orang.”
Didukung oleh ayahnya, Yohanna fokus penuh pada sepakbola. Talenta alaminya mulai terlihat, meski ia sometimes cenderung terlalu bernafsu. “Saat itu kami hanya boleh bermain dengan dua sentuhan, tetapi saya sering lupa dan malah menggiring bola,” tambahnya.
Yohanna menandatangani kontrak dengan AIK pada 2025 setelah tampil menonjol dalam perjalanan pencarian bakat di Afrika. Ia tak butuh waktu lama untuk beradaptasi di Swedia. Dalam 18 pertandingan di semua kompetisi, ia mencetak lima gol dan menyuplai empat assist.
Salah satu momen paling berkesan adalah saat ia mencetak gol kemenangan dramatis melawan Halmstad di menit ke-83. “Saya selalu ingin bergerak ke depan begitu mendapatkan bola,” kata Yohanna. Penampilannya membuat banyak rekan setim terkesan, salah satunya Taha Ayari yang mengatakan, “Dia seperti Lamine Yamal, wow!”
Kiper AIK, Kristoffer Nordfeldt, juga memuji kemampuan Yohanna. “Semua orang bisa melihat bahwa dia punya X-factor yang sangat besar,” ungkapnya. Meskipun ia baru bergabung di tengah musim, Yohanna secara bertahap berhasil menembus starting XI.
Sekarang di Brighton, Yohanna mendapatkan tantangan baru dalam Premier League. Sebagai pemain sayap berkaki kiri, ia diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan. “Ia adalah pemain yang bisa membuat perbedaan di sepertiga akhir lapangan,” kata manajer Brighton, Fabian Hürzeler.
Namun, Yohanna masih harus menghadapi berbagai tantangan di liga tertinggi. Ia perlu meningkatkan pengambilan keputusan di sepertiga akhir lapangan agar bisa bersaing di level ini. “Saya ingin bermain di liga-liga terbesar dan di Liga Champions,” ujarnya penuh semangat.
Di Indonesia, banyak penggemar berharap dapat melihat perkembangan talenta muda seperti Yohanna di Eropa. “Kami senang melihat pemain muda berpotensi seperti Zadok Yohanna menembus Premier League. Semoga dia bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.” kata salah satu penggemar sepak bola Indonesia.





