Politik

Zulhas Tegaskan Jangan Pindahkan Kesalahan Nama Desa ke Bawahan!

Jakarta, Maret.id — Baru-baru ini, seorang tokoh yang dikenal dengan panggilan Hensa memberikan pandangannya terkait kesalahan informasi yang dialami oleh Zulhas, yang menjadi sorotan setelah melakukan kunjungan ke Desa Tegal Retno di Kebumen, Jawa Tengah. Hensa menilai bahwa kesalahan seperti ini adalah sesuatu yang wajar dalam proses birokrasi, dan menyatakan bahwa tidak perlu ada kemarahan yang ditujukan kepada staf yang membawa informasi tersebut.

“Yang penting, karena Zulhas aman, dia juga jangan menegur keras anak buah yang memberikan nama itu. Sekali-kali salah ya tidak apa-apa,” ujar Hensa dalam wawancaranya pada Senin, 25 Mei 2026, di depan awak media. Ia mengatakan bahwa penting untuk tidak memberikan dampak negatif pada jajaran staf akibat kekeliruan yang terjadi, agar tidak memicu efek berantai yang merugikan.

Pentingnya Penanganan Kesalahan Informasi

Hensa mengingatkan bahwa jika informasi yang salah diterima oleh Zulhas dan kemudian disampaikan kepada Presiden Prabowo, bisa jadi akan ada tekanan berlebihan yang berdampak pada staf di tingkat bawah. Ia menekankan, “Takutnya gara-gara info ke Zulhas salah, lalu Zulhas ke presiden salah, kemudian Zulhas menekan bawahannya lagi. Nanti yang paling bawah yang kena hukuman, bahkan mungkin bisa sampai dipecat. Jangan begitu.”

Kesadaran akan dampak dari kesalahan informasi ini menjadi krusial, mengingat posisi Zulhas yang diharapkan dapat berperan secara adil dan bijaksana dalam mengelola timnya. Hensa juga menyoroti bahwa Presiden Prabowo sendiri tidak menunjukkan reaksi negatif yang serius terkait kekeliruan tersebut, sehingga seharusnya Zulhas dapat lebih tenang dalam menghadapi situasi ini.

Seruan untuk Keadilan dalam Birokrasi

Hendri, kolega Hensa, menyatakan bahwa Zulhas harus bersikap adil terhadap bawahannya dan tidak terbawa emosi ketika menghadapi kesalahan. “Zulhas juga harus fair. Dia aman di mata presiden, jadi anak buahnya jangan diomelin. Tegur pelan saja, kalem,” tambahnya. Ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang lebih manusiawi dalam manajemen birokrasi, terutama di saat krisis informasi.

Situasi ini mencuat setelah Presiden Prabowo sempat bercanda mengenai perlunya mengganti Zulhas setelah terjadi kesalahan seputar nama desa saat kunjungannya ke sektor pertanian budidaya udang. Hal ini menunjukkan bahwa kesalahan komunikasi, meskipun bisa berakibat serius, dapat juga dihadapi dengan sikap humor, asalkan dipandang secara proporsional.

Dalam konteks ini, penting bagi setiap pejabat publik untuk menjaga suasana positif di dalam timnya, sehingga kesalahan dapat dihadapi dengan bijak tanpa menimbulkan ketakutan yang tidak perlu di kalangan staf. Keterbukaan dan komunikasi yang efektif menjadi kunci untuk menghindari kesalahan serupa di masa mendatang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button