Politik

Pemerintah Tegaskan Tidak Boleh Ada Jemaah Indonesia Tercecer di Armuzna!

Jakarta, Maret.id — Anggota Tim Pengawas Haji DPR RI 2026, Maman Imanul Haq, mengingatkan bahwa jalur Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) merupakan titik paling padat, rawan, dan krusial selama puncak pelaksanaan ibadah haji. Menurutnya, pengawasan yang ketat sangat diperlukan untuk memastikan kelancaran dan keselamatan jemaah.

Maman menyatakan rasa syukur karena seluruh jemaah haji Indonesia sudah berada di Arafah untuk melaksanakan wukuf. Namun, ia menegaskan bahwa penting untuk memastikan semua jemaah dari Muzdalifah dapat terangkut ke Mina dengan aman. Sebagai politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), ia juga menyoroti bahwa Muzdalifah hanya merupakan lokasi transit dengan fasilitas yang terbatas, sehingga keterlambatan transportasi dapat berdampak fatal bagi keselamatan jemaah.

Kepedulian Terhadap Jemaah Rentan

Kepadatan jutaan orang di jalur tersebut, ditambah dengan cuaca panas ekstrem di Arab Saudi, berpotensi menjadi ancaman serius terutama bagi jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, serta jemaah yang berada dalam kategori risiko tinggi. Untuk itu, Maman meminta petugas di lapangan untuk melakukan penyisiran dengan cermat, guna memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal baik di Arafah maupun Muzdalifah.

Ia juga mendesak pemerintah untuk memastikan armada bus dapat beroperasi dengan disiplin dan tepat waktu, mengangkut seluruh jemaah menuju Mina sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Mengingat kondisi fisik jemaah yang sangat terjaga pentingnya, skema pergerakan bus tanpa berhenti—yang disebut murur—perlu dieksekusi dengan efektif. Maman menekankan bahwa data akurat mengenai jemaah yang berisiko sangat penting untuk menghindari kebingungan di jalur evakuasi.

Pentingnya Pendampingan

Dalam setiap tahap pelaksanaan ibadah haji, Maman menegaskan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari kelancaran ritual, tetapi juga dari kemampuan petugas dalam memastikan keselamatan dan keberadaan semua jemaah. Dalam konteks ini, pendampingan intensif kepada jemaah lanjut usia dan mereka yang membutuhkan bantuan adalah sebuah keharusan.

“Petugas haji wajib memastikan jemaah yang masuk dalam skema murur tetap mendapatkan pelayanan yang optimal, terutama dalam aspek kesehatan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa fase Armuzna merupakan masa di mana kesehatan jemaah sangat diuji, sehingga memerlukan perhatian khusus dari semua petugas haji.

Peluang Meningkatkan Pelayanan

Maman Imanul Haq juga meminta agar semua petugas haji dapat memberikan pelayanan terbaik, dengan fokus pada keselamatan jemaah. Keberadaan dan keselamatan jemaah, terutama mereka yang berisiko, harus menjadi prioritas utama. “Kami tidak ingin ada jemaah Indonesia yang tercecer dalam fase krusial ini. Armuzna adalah fase penting yang harus didukung dengan pelayanan khusus,” tegasnya.

Sikap proaktif dan responsif dari petugas sangat diperlukan untuk memastikan bahwa semua jemaah dapat menjalani ibadah haji dengan aman dan nyaman, tanpa ada yang tertinggal atau mengalami kesulitan. Kesiapsiagaan dan dedikasi petugas haji di lapangan menjadi faktor penentu dalam kesuksesan penyelenggaraan puncak ibadah haji tahun ini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button