DEN Bongkar Penyebab Pemulihan Listrik Sumatera Tak Bisa Instan!

Jakarta, Maret.id — Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M Kholid Syeirazi, menyoroti pentingnya stabilitas dan kehati-hatian dalam proses pemulihan sistem kelistrikan interkoneksi skala besar di Indonesia, khususnya di Sumatera. Ia menjelaskan bahwa normalisasi sistem interkoneksi, yang melibatkan ribuan kilometer jaringan serta berbagai pembangkit dan transmisi, tidak dapat dilakukan secara instan.
Kholid secara khusus mengingatkan bahwa pemulihan harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, bukan hanya untuk memastikan aliran listrik kembali, tetapi juga untuk menjamin bahwa sistem berfungsi dengan stabil dan aman. Dalam penyampaian tersebut, Kholid menekankan bahwa stabilitas frekuensi adalah indikator utama yang menentukan keseimbangan antara daya yang diproduksi dan beban yang digunakan oleh pelanggan.
Pentingnya Stabilitas Frekuensi
Ketika terjadi gangguan besar yang menyebabkan beberapa pembangkit terlepas dari jaringan, frekuensi dapat turun secara drastis, berpotensi mengakibatkan efek domino di seluruh sistem listrik. “Pemulihan yang dilakukan terlalu cepat tanpa sinkronisasi yang tepat dapat membahayakan frekuensi dan menyebabkan pembangkit lain terlepas dari jaringan,” ungkap Kholid dalam keterangan resminya.
Oleh karena itu, strategi pemulihan yang dijalankan harus dilakukan secara bertahap dan terukur. Pendekatan ini dirancang untuk menjaga sinkronisasi antar-pembangkit, termasuk aspek frekuensi, tegangan, dan sudut fase sistem. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menghindari ketidakseimbangan antara pasokan dan beban, yang dapat berakibat pada padam massal dan kerusakan peralatan.
Proses Pemulihan Bertahap
Kholid menjelaskan bahwa pembangkit thermal, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), memerlukan waktu yang lebih lama dalam proses pemulihan. Proses ini mencakup sejumlah tahapan teknis yang harus dilalui, mulai dari pemanasan boiler, pembentukan tekanan uap, hingga stabilisasi beban sebelum dapat melakukan operasi penuh. “PLTU tidak dapat langsung dihubungkan ke sistem secara bersamaan. Ada tahapan yang diperlukan untuk memastikan unit pembangkit beroperasi dengan aman,” jelasnya.
Kholid juga mengapresiasi upaya dalam normalisasi sistem kelistrikan di Sumatera, yang dinilai sebagai langkah yang terukur dan efektif dalam menangani gangguan pada sistem interkoneksi. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam penanganan gangguan, serta tahapan pemulihan yang sistematis agar tidak terjadi blackout susulan. “Proses pemulihan yang saat ini dilakukan sudah memadai, sehingga sistem dapat kembali ke kondisi normal dengan aman,” tutupnya.





