Jokowi Menciptakan Musuh Sendiri melalui Keliling Indonesia!

Jakarta, Maret.id — Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai bahwa kemunculan kembali Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang intens di ruang publik memaksa para aktor politik untuk meninjau ulang posisi dan strategi mereka. Hal ini, menurut Satrio, menandakan bahwa Jokowi tengah mempersiapkan diri untuk bertarung kembali di pentas politik.
Dengan kehadiran Jokowi yang semakin mengemuka, Satrio berpendapat bahwa ini dapat menciptakan musuh baru bagi mantan wali kota Solo tersebut. “Memang Jokowi secara tidak langsung bikin musuh sendiri. Kenapa? Karena dengan dia muncul ke permukaan, orang-orang jadi tahu bahwa Jokowi sedang siap bertarung,” ujar Satrio dalam sebuah wawancara melalui kanal YouTube miliknya pada Minggu, 31 Mei 2026.
Imbas pada Partai Politik
Satrio menandaskan bahwa langkah Jokowi ini dapat memengaruhi hubungan politik antara dirinya dengan sejumlah partai. Para ketua umum partai politik yang selama ini telah menjalin komunikasi atau berkunjung kepada Jokowi kini dihadapkan pada tantangan dari kader internal mereka. “Partai-partai politik, terutama ketua umum partai politik lain yang biasanya sowan menghadap Jokowi, bisa jadi saat ini harus berpikir dua kali,” ungkapnya.
Keputusan untuk tetap mengunjungi Jokowi otomatis akan memicu pertanyaan dari kader-kader partai tersebut mengenai loyalitas dan strategi politik masing-masing. Menurut Satrio, situasi ini akan berdampak pada dinamika hubungan antarpartai menjelang pemilu mendatang.
Pemetaan Kekuatan Jokowi
Hendri Satrio mencatat bahwa seluruh kekuatan politik saat ini mulai mencermati dan memetakan kekuatan Jokowi. Apalagi jika agenda keliling Indonesia yang tengah dilakukannya berkaitan dengan upaya memperbesar Partai Solidaritas Indonesia (PSI). “Bagaimana cara membendung Jokowi yang berkeliling-keliling ini? Mungkin sekarang lawan politiknya adalah lawan PSI,” tuturnya.
Lebih lanjut, Satrio menjelaskan bahwa kekuatan Jokowi tidak hanya berlandaskan pada popularitasnya, tetapi juga didukung oleh persepsi publik mengenai sumber daya politik yang masih ada padanya. “Jokowi masih populer. Dalam politik, branding yang kuat tentu akan tetap diperhitungkan dan diwaspadai oleh lawan-lawan politiknya,” kata Satrio.
Mengukur Pengaruh Terhadap PSI
Satrio juga menyoroti pertanyaan penting terkait manuver politik Jokowi saat ini, yakni seberapa besar pengaruh mantan Presiden tersebut dalam mendongkrak elektabilitas PSI pada pemilu mendatang. “Pertanyaan terbesarnya, mampu tidak Jokowi membuat PSI tembus Senayan atau minimal hasil suara pemilihannya bisa di atas 4 persen?” pungkasnya.
Dalam konteks persaingan politik yang semakin ketat, langkah Jokowi yang kembali aktif berinteraksi dengan masyarakat ini menunjukkan bahwa ia masih memiliki daya tarik di kalangan pemilih. Seiring dengan itu, partai-partai lainnya perlu menyesuaikan strategi mereka untuk merespons kemunculan kembali Jokowi yang dinilai memiliki potensi signifikan dalam memengaruhi lanskap politik Indonesia ke depan.





