Bangkitkan Semangat Bung Tomo: Lawan Pemimpin Pengkhianat Rakyat Kecil!

Jakarta, Maret.id — Semangat kepahlawanan Bung Tomo masih sangat relevan dalam konteks sosial dan politik saat ini. Putra kandungnya, Bambang Sulistomo, menegaskan pentingnya perjuangan ayahnya terhadap keadilan sosial dan dukungannya kepada rakyat miskin. Ia menyampaikan hal ini dalam diskusi peluncuran buku berjudul “Jejak Perjuangan Bung Tomo” yang diselenggarakan di RRI Surabaya pada Minggu, 31 Mei 2026.
Warisan Sosial Bung Tomo
Dalam acara tersebut, Bambang mengisahkan bagaimana Bung Tomo menghabiskan masa mudanya dengan langsung bergumul bersama masyarakat bawah. Tokoh yang dikenal karena orasinya yang menggugah semangat rakyat itu tumbuh dengan rasa empati yang tinggi terhadap penderitaan orang lain. Ibu Bung Tomo bahkan pernah bekerja sebagai binatu untuk menyambung kehidupan keluarga mereka.
“Bapak itu berasal dari orang miskin. Bergaulnya ya dengan orang-orang miskin,” ungkap Bambang. Realitas sosial yang dijumpai Bung Tomo membentuk pandangannya terhadap kemiskinan. Ia percaya bahwa pemimpin yang menghina kaum miskin harus dilawan.
Perjuangan Melawan Ketidakadilan
Bambang menekankan bahwa bagi Bung Tomo, berbicara tentang kemiskinan berarti berbicara tentang kedaulatan rakyat. “Cita-cita kemerdekaan yang diperjuangkan oleh Bapak adalah mewujudkan negara yang berdaulat agar tidak ada lagi rakyat yang hidup dalam jerat kemiskinan,” lanjutnya.
Pandangan politik tersebut mendorong Bung Tomo untuk mendirikan Partai Rakyat Indonesia (PRI) yang berasaskan Pancasila. Ia percaya bahwa tidak ada satu pun sila dalam Pancasila yang bertujuan untuk menghasilkan kemiskinan. Sebaliknya, Pancasila itu sendiri hadir untuk menghargai martabat rakyat.
Pentingnya Memori Sejarah
Selama acara diskusi, Bambang juga menggarisbawahi bahwa kemiskinan yang melanda masyarakat bukanlah sebuah takdir. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan hasil dari ketidakadilan yang sistemik. “Ketika yang korupsi tetap korupsi, dan yang salah justru dibenarkan, di situlah ketidakadilan terjadi,” tegas Bambang.
Acara tersebut dimoderatori oleh Kuncarsono Prasetyo, dan turut hadir Heroe Budiarto dari Dewan Kebudayaan Surabaya. Dalam kesempatan ini, penulis buku Nanang Purwono mengungkapkan motivasi utama penulisan karyanya adalah untuk melawan rasa lupa dan merawat ingatan kolektif masyarakat, terutama generasi muda.
Ia menyesalkan hilangnya sejumlah situs sejarah, termasuk rumah dan studio radio Bung Tomo di Jalan Mawar yang sudah rata dengan tanah. Meski demikian, Nanang menekankan bahwa nilai sejarah dari tempat-tempat tersebut tidak boleh dilupakan. “Kami mengabadikannya dalam bentuk buku, agar sejarahnya tidak ikut hilang,” pungkasnya.





