Kejutan DPD PDI Perjuangan: Manuver Pancasila untuk Bangsa

Jakarta, Maret.id — Setiap tanggal 1 Juni, Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Momen ini biasanya diwarnai dengan upacara kenegaraan, pidato-pidato inspiratif, dan tren di media sosial. Namun, setelah itu, banyak yang kembali ke rutinitas sehari-hari seolah Pancasila hanya diingat sekali dalam setahun. Hal ini mengindikasikan bahwa kita masih belum sepenuhnya memahami dan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Pancasila Sebagai Jiwa dan Tidak Hanya Sebuah Teks
Masyarakat Indonesia dikenal mampu menghafal butir-butir Pancasila dengan baik. Dari anak-anak sekolah dasar hingga para lansia di warung kopi, sila-sila Pancasila terpatri dalam ingatan mereka. Namun, jika ditanya tentang makna satu per satu sila dalam aktivitas sehari-hari, respon sering kali hening.
Kita terjebak dalam pemahaman Pancasila yang dangkal, yakni hanya menganggapnya sebagai teks yang harus dihafal. Pendidikan kita mungkin telah berhasil mencetak penghafal, namun memahami esensi dan nilai dari Pancasila serta mengimplementasikannya dalam tindakan sehari-hari masih menjadi tantangan yang belum teratasi.
Dampak Ketidakpahaman terhadap Pancasila
Ketidakpahaman ini memiliki dampak nyata. Ketika nilai-nilai Pancasila tidak diterapkan dalam kehidupan, individu akan merasa tidak terpanggil untuk bertindak sesuai dengan esensi dari Pancasila. Kooperasi dan gotong royong hanya tersisa sebagai slogan, sementara keadilan sosial menjadi sekadar caption di media sosial. Dalam konteks ini, persatuan Indonesia terlihat indah saat lagu kebangsaan dinyanyikan, tetapi segera setelah itu, kita kembali terlibat dalam perselisihan di dunia maya.
Dalam artikel ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk merenungkan dua fenomena yang tengah dihadapi saat ini—tekanan ekonomi global dan eksploitasi hutan di Papua—sebagai contoh nyata di mana Pancasila dapat memberikan solusi, jika kita mau memahami dan mengimplementasikannya.
Penekanan dari Masalah Ekonomi Global
Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar mengalami volatilitas yang tinggi, dan harga-harga kebutuhan pokok merangkak naik, membuat daya beli masyarakat terkikis. Situasi ini menyebabkan sebagian orang panik, sementara yang lainnya justru berpasrah. Namun, jika kita merujuk pada sila kelima Pancasila yang berbunyi “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, kita diingatkan bahwa ini bukan hanya sekadar cita-cita, melainkan juga merupakan mandat konstitusi.
Pasal 33 UUD 1945 mengatur bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama yang berlandaskan asas kekeluargaan. Artinya, ketika ekonomi tertekan, respons yang seharusnya muncul adalah solidaritas kolektif—contohnya dengan membeli produk lokal dan mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menjaga rantai ekonomi di tengah masyarakat.
Penggundulan Hutan di Papua dan Pancasila yang Terlupakan
Fakta lain yang memprihatinkan adalah masalah penggundulan hutan di Papua. Dalam isu ini, masyarakat adat sering kali terpinggirkan dan tanah leluhur mereka dijual atas nama ketahanan pangan. Masalah ini tidak hanya sekadar isu lingkungan, tetapi juga menyentuh esensi dari sila kedua Pancasila—”Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”—serta sila ketiga—”Persatuan Indonesia”.
Keberanian untuk menegakkan persatuan di Indonesia tidak sejalan dengan kenyataan di mana saudara-saudara kita di Papua kehilangan hak atas tanah dan identitas. Pasal 28H UUD 1945 pun menjamin hak setiap warga atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Jika nilai-nilai Pancasila benar-benar diterapkan dalam pengambilan keputusan, kebijakan yang merugikan rakyat kecil demi kepentingan segelintir elit tidak akan mudah terlaksana.
Refleksi dan Harapan untuk Mewarisi Semangat Pancasila
Mengacu pada sejarah, pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno dengan penuh semangat mengemukakan lima prinsip Pancasila tanpa teks dan tanpa contekan. Pidatonya bukan hanya indah secara retorika, tetapi juga mengandung esensi mendalam yang bisa menggerakkan rakyat untuk memikirkan nasib bangsa.
Kita diingatkan bahwa Bung Karno bukan sekadar menghafal, tetapi berhasil memanggil jiwa bangsa untuk meresapi Pancasila. Hari ini, hal ini menjadi penting untuk kita bangkitkan kembali. Bukan hanya untuk memperingati, tetapi juga untuk mewarisi spirit Pancasila sebagai pedoman hidup, yang harus dihidupkan oleh setiap generasi.
Dengan perayaan Hari Lahir Pancasila ini, mari kita jujur pada diri sendiri bahwa pemahaman kita masih minim. Pancasila bukan sekadar serangkaian kalimat yang lancar diucapkan, tetapi tentang bagaimana nilainya tercermin dalam tindakan kita sehari-hari. Apakah kita siap untuk menjaga api Pancasila yang dinyalakan oleh Bung Karno 80 tahun lalu? Mari kita bergerak bersama, bukan hanya untuk merayakan, tetapi untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kehidupan kita.





