Pemerintah Wajib Hadapi Serius Pelemahan Nilai Tukar Rupiah!

Jakarta, Maret.id — Legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menegaskan perlunya perhatian serius dari pemerintah terkait kondisi pasar keuangan Indonesia yang mengalami tekanan belakangan ini. Menurutnya, situasi ini sangat berhubungan dengan kepercayaan investor terhadap proyeksi ekonomi nasional yang sedang berlangsung.
Respon Terhadap Gejolak Pasar
Amin menyatakan bahwa penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pelemahan nilai tukar rupiah hingga mencapai Rp18.000 per dolar AS merupakan sinyal serius yang harus dicermati. “Pemerintah tidak boleh menganggap ini sebagai gejolak biasa, tetapi harus membaca secara utuh pesan yang sedang disampaikan pasar,” tegasnya pada Jumat, 5 Juni 2026.
Ia juga menggarisbawahi bahwa meskipun ada tekanan dari faktor global seperti ketegangan geopolitik dan penguatan dolar AS, pemerintah tetap dituntut untuk memperkuat faktor-faktor domestik. Ini penting untuk menjaga harapan dan optimisme investor terhadap pasar keuangan Indonesia yang kian bergejolak.
Pentingnya Stabilitas Ekonomi
Amin menjelaskan bahwa pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi yang dihasilkan oleh kepercayaan investor. Oleh karena itu, stabilitas ekonomi dan kepastian kebijakan menjadi dua elemen krusial yang harus senantiasa dijaga. “Kepercayaan investor adalah aset yang sangat berharga. Ketika ada ketidakpastian mengenai arah kebijakan ataupun kondisi ekonomi masa depan, reaksi pasar biasanya adalah aksi jual,” tutur Amin.
Dia memberikan apresiasi atas upaya yang dilakukan pemerintah serta lembaga terkait, seperti Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, dan Bursa Efek Indonesia, untuk menjaga stabilitas pasar. Meskipun demikian, Amin berpendapat bahwa komunikasi kebijakan yang lebih konsisten dan respons yang cepat terhadap dinamika pasar perlu diperkuat lagi.
Tekanan terhadap Nilai Tukar dan Ekonomi Riil
Legislator dari PKS ini juga menyoroti bagaimana pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menambah tekanan terhadap biaya impor, yang pada gilirannya dapat berdampak buruk bagi dunia usaha dan daya beli masyarakat. “Nilai tukar rupiah harus menjadi perhatian khusus. Meski ada faktor global yang mempengaruhi, pemerintah dan otoritas moneter harus memastikan stabilitas nilai tukar terus terjaga,” imbuh Amin.
Dia berharap pemerintah bisa memanfaatkan momen ini untuk memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan demi menjaga stabilitas ekonomi nasional. Amin juga mendorong upaya penguatan iklim investasi serta peningkatan transparansi dalam kebijakan.
Amin menutup pernyataannya dengan harapan bahwa pasar modal Indonesia dapat kembali menjadi tujuan investasi yang menarik. “Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan kebijakan yang tepat, saya yakin Indonesia mampu melewati fase tekanan ini dengan baik,” tutupnya.





