Politik

Manuver Tari Topeng Sinyal Koalisi PDIP Jatim

Jakarta, Maret.id — Di tengah cuaca yang mendung setelah hujan deras, Tari Topeng Kaliwungu memberikan penampilan yang memukau di Pendopo Arya Wiraraja, Lumajang. Tarian yang merupakan warisan budaya tak benda ini menjadi simbol kearifan dan identitas budaya Lumajang.

Kehangatan di Pendopo Arya Wiraraja

Langit Kota Lumajang saat itu masih berwarna kelabu, hari Jumat, 12 Juni 2026. Hujan deras menjadikan suhu terasa lebih dingin, dan awan yang rendah menutupi kota ini. Namun, suasana di Pendopo Arya Wiraraja sebaliknya.

Sekitar pukul 14.00 WIB, tamu mulai berdatangan dan kehangatan muncul dari atas panggung. Dengan latar belakang musik gamelan, seorang penari yang mengenakan topeng khas Lumajang memukau perhatian para tamu yang hadir. Suara denting gamelan serentak mengatur irama, menggema dalam ketukan yang mantap.

Tari Topeng Kaliwungu: Penyambut Tamu Spesial

Tari Topeng Kaliwungu adalah tarian tunggal khas Lumajang, yang berfungsi sebagai penyambut kedatangan jajaran pengurus DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. Para pengurus dipimpin Ketua DPD Said Abdullah, menggelar silaturahmi di Pendopo Arya Wiraraja menjelang aksi penanaman 1.000 pohon di kawasan Bumi Perkemahan Glagah Arum, Senduro, Lumajang.

Kegiatan ini juga diiringi dengan pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Lumajang pada 13 Juni 2026, menandai selesainya konsolidasi organisasi partai hingga tingkat kecamatan di seluruh Jawa Timur. Selain Sudah disambut oleh Bupati Lumajang Indah Amperawati, juga hadir Wakil Bupati Yudha Adji Kusuma dan Kapolres Lumajang AKBP Alex Sandy Siregar yang turut meramaikan suasana.

Pentingnya Melestarikan Budaya

Tari Topeng Kaliwungu bukan semata-mata sebuah pertunjukan, melainkan warisan budaya yang diturunkan oleh seorang seniman bernama Mbah Senemo. Tarian ini berasal dari desa Kaliwungu, dan membawa narasi tentang identitas masyarakat Lumajang yang merupakan perpaduan budaya Jawa dan Madura, atau dikenal pula sebagai budaya Pandhalungan.

Gerakan lembut penari yang penuh penghayatan, berpadu dengan irama musik yang tegas, menciptakan harmoni yang menggambarkan karakter masyarakat Lumajang: kuat namun tetap sopan. Wati, pemilik dan pelatih Sanggar Tari Citra Budaya Lumajang, menegaskan bahwa kehadiran Tari Topeng Kaliwungu pada acara tersebut memiliki misi penting untuk memperkenalkan dan melestarikan identitas budaya Lumajang.

Sejak tahun 2021, tarian ini diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Pengakuan ini menjadi kebanggaan sendiri bagi masyarakat Lumajang. Namun, tantangan terbesar kini adalah memastikan agar budaya ini tetap hidup.

Wati menekankan, “Karena Topeng Kaliwungu sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda, maka kami merasa memiliki tanggung jawab untuk terus melestarikannya.” Tanggung jawab tersebut akan ditunjukkan pada 28 Juni 2026 mendatang, di mana 500 penari Topeng Kaliwungu akan tampil dalam ajang Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang akan diselenggarakan di Pantai Watu Pecak, Pasirian.

Di tengah mendung yang belum sepenuhnya sirna, Tari Topeng Kaliwungu berhasil menambah kehangatan dan makna lebih dalam untuk Pendopo Arya Wiraraja. Tarian ini mengingatkan kita bahwa sebuah daerah bukan hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari identitas, cerita, dan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi. Di Lumajang, salah satu cerita tersebut berlanjut melalui tari yang telah ada sejak lama, yaitu Topeng Kaliwungu.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button