BBM Naik Ugal

Jakarta, Maret.id — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia yang baru-baru ini terjadi telah memicu dampak politik yang signifikan bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kenaikan ini disebabkan oleh ketidakmampuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam mencari solusi yang tepat untuk menjaga stabilitas harga energi.
Kritik Terhadap Kinerja Menteri ESDM
Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga, mengekspresikan pandangannya bahwa kenaikan harga Pertamax bisa berdampak negatif bagi Presiden Prabowo. Menurutnya, situasi ini seharusnya dapat dihindari jika Bahlil mampu menjalin kerja sama untuk mendapatkan pasokan BBM dari negara lain. “Kenaikan harga BBM ini mencerminkan rendahnya kinerja Menteri Bahlil dalam menjaga keseimbangan harga energi,” ujarnya.
Jamiluddin menilai bahwa kegagalan Bahlil dalam menghadapi tantangan ini sangat serius. “Kegagalan Bahlil itu menunjukkan kinerjanya yang rendah,” tambahnya. Dalam pandangan tersebut, ia mendorong agar Presiden Prabowo mengambil langkah evaluatif terhadap kinerja Bahlil, termasuk mempertimbangkan kemungkinan perombakan kabinet jika situasi ini tidak kunjung membaik.
Kenaikan Harga BBM yang Signifikan
Kenaikan harga BBM tidak hanya berfokus pada satu jenis bahan bakar. Pada 18 April 2026, harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex sudah mengalami kenaikan. Harga Pertamax Turbo meningkat dari Rp19.400 menjadi Rp19.900 per liter, sementara Dexlite melonjak dari Rp23.600 menjadi Rp26.000 per liter, dan Pertamina Dex dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per liter pada 4 Mei 2026.
Yang terbaru, harga Pertamax mengalami kenaikan yang signifikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dan Pertamax Green dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter yang efektif berlaku sejak 10 Juni 2026. Kenaikan ini bukan hanya memengaruhi daya beli masyarakat tetapi juga memberikan dampak luas terhadap perekonomian nasional.
Evaluasi Kinerja Pemerintahan
Pressures on the government are mounting as citizens face increased living costs due to fuel price hikes. Jamiluddin berpendapat, “Seharusnya Prabowo mengevaluasi Bahlil untuk direshuffle. Sebab, Bahlil tak mampu menjaga stabilitas harga BBM, khususnya Pertamax,” jelasnya. Desakan ini menunjukkan bahwa dalam situasi krisis, tindakan tegas perlu diambil untuk menguatkan kembali kepercayaan publik terhadap pemerintahan.
Dalam situasi ini, Presiden Prabowo dihadapkan pada tantangan besar untuk mempertahankan stabilitas politik dan ekonomi di tengah naiknya harga BBM. Dengan berbagai kritik yang muncul, langkah evaluasi yang tepat akan menjadi kunci untuk melanjutkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahannya dan menghindari kesalahan yang lebih besar di masa mendatang.





