Respon Tegas Hasto: 3 Manuver Moral Gatotkaca

Jakarta, Maret.id — Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengemukakan tiga pesan moral penting dari tokoh legendaris pewayangan, Gatotkaca, saat menghadiri pagelaran wayang kulit Bulan Bung Karno di Kabupaten Blitar. Tiga pesan tersebut meliputi keberanian membela kebenaran, pentingnya menjaga moralitas dalam kekuasaan, serta kehidupan sederhana yang selalu eling lan waspada.
Pentingnya Meneladani Nilai-nilai Gatotkaca
Hasto menyampaikan pesan tersebut di hadapan masyarakat dalam pagelaran wayang yang menceritakan Lahirnya Gatotkaca. Acara ini dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Blitar pada malam 1 Muharram 1448 Hijriah atau Satu Suro, Senin (15/6/2026).
Dijelaskan Hasto, Gatotkaca merupakan sosok yang sangat dikagumi oleh Bung Karno karena melambangkan semangat keberanian serta pengabdian kepada rakyat. Pesan pertama fokus pada keberanian dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. “Gatotkaca tidak pernah takut. Di zaman ini, banyak orang yang merasa takut untuk membela kebenaran dan keadilan ketika ketidakadilan semakin merajalela. Kita harus belajar dari Gatotkaca dan menjadi ksatria yang membela rakyat, bangsa, dan negara,” ungkapnya.
Menjaga Keseimbangan dalam Kekuasaan
Pesan kedua yang disampaikan oleh Hasto berkaitan dengan relasi antara kekuasaan, keluarga, dan ambisi manusia. Ia mengambil contoh kisah Arjuna dan Adipati Karna yang meskipun satu ibu, namun memilih jalan hidup yang berbeda karena kepentingan masing-masing. “Tidak ada manusia yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar nilai-nilai kebaikan tetap menjadi pedoman dalam kehidupan,” tegas Hasto.
Salah satu filosofi yang disampaikan adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara sisi baik dan buruk dalam diri manusia. “Kedua elemen tersebut selalu ada dalam diri kita. Tugas kita adalah menjaga keseimbangan agar sisi baik selalu bersinar,” tambahnya.
Kehidupan Sederhana dan Kesadaran Diri
Pesan ketiga yang disampaikan Hasto adalah pentingnya menjalani kehidupan dengan sikap sederhana dan terus mengingat asal-usul. Selain itu, ia menekankan pentingnya kewaspadaan (eling lan waspada) dalam setiap langkah kehidupan. “Ini adalah nilai yang seharusnya selalu kita pegang, terutama dalam menjalani kehidupan di tengah tantangan yang ada,” tuturnya.
Hasto kemudian mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan filosofi di dalam budaya Jawa, serta pentingnya peran Punokawan—Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong—sebagai simbol dari rakyat kecil. “Punokawan adalah representasi dari rakyat yang justru menjadi penopang bagi para pahlawan,” paparnya.
Hasto juga menjelaskan filosofi Jawa tentang Sedulur Papat Limo Pancer, yang menggambarkan hubungan antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta. Ia menekankan bahwa ajaran yang terdapat dalam pewayangan tetap relevan untuk menghadapi tantangan kehidupan modern.
Dalam penutupnya, Hasto mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, mahasiswa, birokrat, dan pemimpin masa depan untuk meneladani semangat Gatotkaca. “Seluruh ksatria di zaman sekarang tidak boleh takut untuk menjalankan tugas mulia membela kebenaran dan keadilan,” pungkas Hasto.
Pagelaran wayang kulit ini merupakan bagian dari upaya untuk merawat tradisi budaya sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada seluruh masyarakat melalui seni yang dekat dengan kehidupan rakyat.





