Politik

Pesta Babi Picu Pergerakan Internasional untuk Protes Isu Papua!

Jakarta, Maret.id — Pengamat politik dari Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Singapura, Rico Marbun, memberikan analisis mendalam mengenai sejarah perolehan kemerdekaan Timor-Leste dan implikasinya terhadap situasi di Papua. Menurutnya, proses lepasnya Timor Timur dari Indonesia menunjukkan pola yang terstruktur dalam tiga tahapan crucial: pemilihan momentum dan isu keluhan, internasionalisasi masalah, serta intervensi asing.

Pemilihan Momentum Sejarah

Rico menjelaskan bahwa tragedi Santa Cruz pada tahun 1991 menjadi momen penting yang mengangkat isu Timor Timur ke kancah internasional. “Setelah insiden tersebut, berkembang berbagai jaringan advokasi yang berhasil menekan Indonesia, membuka jalan bagi referendum,” ungkapnya. Ia menekankan bahwa situasi serupa kini dapat ditemukan dalam konteks Papua, di mana isu-isu lokal mulai mendapatkan perhatian global.

Film sebagai Alat Kritik

Salah satu alat yang digunakan dalam memicu perhatian internasional adalah film. Rico merujuk pada tayangan film Pesta Babi yang ditayangkan di Auckland, Selandia Baru, pada Maret 2026. Film ini difasilitasi oleh kelompok-kelompok yang selama ini mendukung hak penentuan nasib sendiri bagi Papua. “Saya tidak masalah dengan film sebagai sarana untuk mengkritik kebijakan pemerintah. Namun, perlu dicermati penggunaan istilah seperti ‘kolonialisme’, yang dapat berfungsi sebagai instrumen untuk internasionalisasi isu Papua,” paparnya.

Waspada Terhadap Ancaman Internasionalisasi

Rico Marbun menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan dari pemerintah dan masyarakat untuk mencegah upaya yang berpotensi mengubah persoalan domestik menjadi tekanan politik internasional. Ia mengingatkan bahwa sejarah Timor Timur seharusnya menjadi pelajaran berharga. “Kita tidak boleh membiarkan pengalaman pahit itu terulang. Menjaga ruang demokrasi adalah kunci, tetapi kita juga harus waspada terhadap narasi yang dapat disalahgunakan untuk mendorong disintegrasi bangsa,” tegasnya.

Peringatan Rico ini menjadi gambaran tantangan yang dihadapi Indonesia saat berhadapan dengan isu-isu sensitif di wilayahnya. Kesadaran dan respon yang tepat dari pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat menghindarkan negara dari intervensi asing yang merugikan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button