Politik

Popularitas Teddy Melejit, Hensa: Apa Strategi Politiknya?

Jakarta, Maret.id — Analisis komunikasi politik Hendri Satrio, yang dikenal sebagai Hensa, mencuatkan tanda tanya seputar fenomena popularitas Teddy yang tidak didukung oleh posisi formal dalam politik.

“Saya heran sama orang ini, di media sosial ramai, di lapangan malah lebih ramai, mau di kota besar sampai pelosok faktanya kenal dan suka sama dia,” tutur Hensa, Kamis, 25 Juni 2026.

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI ini menekankan bahwa popularitas seperti itu biasanya diperoleh melalui mesin politik atau posisi eksekutif yang jelas. Namun, ia berpendapat bahwa kasus Teddy berbeda, menandakan kedekatan personal dengan pengalaman publik.

“Padahal Teddy itu kepala daerah bukan, menteri yang punya program juga bukan, politisi juga bukan, anaknya pejabat bukan, punya partai pun enggak, anggota partai aja enggak, tapi dia sepopuler itu di masyarakat, pakai ajian apa ini orang? Ini pasti karena kinerja,” tegas Hensa.

Meski tidak memiliki afiliasi politik formal, Hensa menilai Teddy tetap memiliki daya tarik di mata publik. Ia mencatat bahwa Teddy konsisten hadir di ruang-ruang rakyat, sigap menjawab isu-isu publik, dan mampu menyampaikan persoalan kompleks dengan bahasa yang mudah dimengerti.

“Kombinasi itu lebih efektif dibanding retorika birokratis yang jauh dari kehidupan lapangan,” imbuh Hensa.

Baru-baru ini, Teddy tampak mendampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dalam acara di Nahdlatul Ulama di Madura, serta berinteraksi langsung dengan petani dan nelayan di Gorontalo.

“Di kedua tempat itu dia hanya dipanggil saja masyarakat riuh, itu pentingnya kinerja terlihat dan nyata dirasakan, bukan sekadar pidato janji-janji,” ujarnya.

Hensa juga menyoroti bahwa ketenaran Teddy dapat membuat politisi senior tampak kalah bersaing. Popularitasnya, menurutnya, menunjukkan kemampuan untuk menarik simpati publik tanpa bergantung pada pidato atau bagi-bagi bantuan.

“Politisi senior aja nggak segitu populer, Teddy belum setahun jadi Seskab tapi sambutannya sudah ramai di lapangan,” tandas Hensa.

Dia menilai kehadiran Teddy yang berulang bukan sekadar formalitas. Teddy tampak hadir untuk mendengar dan memberikan perhatian nyata kepada masyarakat.

“Kalau seseorang bisa meraih penerimaan luas tanpa atribut partai atau mesin politik di belakangnya, itu menunjukkan kemampuan komunikasi dan kedekatan sosial yang mumpuni,” pungkas Hensa.

Dia mendorong para aktor politik dan birokrat untuk mempelajari fenomena ini dengan serius. Memahami elemen-elemen yang membuat figur seperti Teddy diterima penting agar interaksi politik kembali berorientasi pada kepercayaan dan kerja nyata.

“Ini bukan soal pencitraan standar, ini soal bagaimana seorang birokrat bisa benar-benar diterima oleh rakyat sehari-hari,” tuturnya.

Hensa menambahkan, “Kalau dibilang membingungkan, ya memang, tapi itu juga tanda ada sesuatu yang efektif dan patut dicermati.”

Akhirnya, ia menyimpulkan bahwa fenomena ini membuat pusing para politisi lama karena ketidakbiasaan mereka menghadapi pejabat non-partai yang memperoleh sambutan hangat dari masyarakat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button