DPRD Banyuwangi Dorong ASDP Tingkatkan Kapasitas Pelabuhan Ketapang

Jakarta, Maret.id — Komisi IV DPRD Banyuwangi mendesak ASDP Indonesia Ferry untuk segera membangun dermaga baru dan meningkatkan kapasitas dermaga movable bridge (MB) yang sudah ada. Hal ini bertujuan untuk memperkuat layanan dan memperlancar arus penyeberangan kapal ferry di lintasan Jawa-Bali.
Ketua Komisi IV DPRD Banyuwangi, Patemo, menyatakan harapannya setelah menggelar rapat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di Kantor PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang. “Kami berharap ada upaya dan langkah cepat dari seluruh pemangku kepentingan, khususnya ASDP, untuk mengatasi kemacetan di Pelabuhan Penyeberangan Ketapang,” ujar Patemo.
Kemacetan yang sering terjadi di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk menjadi alasan mendesaknya peningkatan kapasitas infrastruktur pelabuhan. Menurut Patemo, masalah ini bukan disebabkan oleh minimnya jumlah armada kapal.
Dalam upaya mengatasi kemacetan, ASDP dinilai perlu melakukan koordinasi dengan pihak regulator dan pemerintah daerah. “ASDP sebaiknya menahan sementara pergerakan kendaraan di luar wilayah pelabuhan saat terjadi lonjakan volume atau cuaca buruk,” sambung Patemo.
Dia juga menyarankan penerapan manajemen rekayasa lalu lintas untuk mengalihkan kendaraan dari jalan utama ke jalur alternatif, menghindari kepadatan di depan pelabuhan. “Area penyangga di Terminal Sritanjung dan kawasan Bulusan perlu dikelola untuk menampung truk logistik,” imbuhnya.
Patemo menekankan pentingnya evaluasi berkala terhadap langkah-langkah tersebut untuk menjaga kelancaran distribusi logistik dan kenyamanan masyarakat. Dalam jangka panjang, ASDP Indonesia Ferry diminta untuk segera mengajukan pembangunan dermaga baru dengan kapasitas yang lebih besar.
“Biang terjadinya kemacetan ini adalah dermaga. Dermaga harus segera diupgrade untuk melayani kendaraan tonase di atas 50 ton, serta mencegah kendaraan logistik antri di Buffer Zone,” tuturnya.
Selain itu, Komisi IV juga mendesak optimalisasi operasional kapal Long Distance ferry (LDF) di Pelabuhan Tanjung Wangi. Penurunan jumlah kapal dari empat menjadi dua kapal dinilai mengganggu distribusi kendaraan logistik.
“Berkurangnya kapal yang beroperasi dari Tanjung Wangi memaksa beberapa kendaraan logistik beralih ke Pelabuhan Ketapang,” jelas Patemo.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Arief Eko Kurniansyah, menyambut baik saran dari Komisi IV. “Kami siap menindaklanjuti saran dan masukan untuk meningkatkan kapasitas dermaga di Pelabuhan Penyeberangan Ketapang,” ujar Arief.
Ia menambahkan, penambahan dan peningkatan dermaga akan memungkinkan layanan yang lebih optimal bagi kendaraan bertonase besar, mempercepat distribusi barang antara Pulau Jawa dan Bali.
ASDP berencana menambah jumlah dermaga di Pelabuhan Gilimanuk. Namun, rencana ini terhambat oleh keterbatasan lahan di Gilimanuk.
Arief optimis kemacetan di Pelabuhan Ketapang akan berkurang. “Antrean kendaraan sempat mengular hingga Desa Bangsring, namun kini telah mereda,” tutupnya.





