Politik

DPR: Latsarmil Tak Jadi Prioritas Calon Pengurus Kopdes MP

Jakarta, Maret.id — Pembekalan fisik bergaya militer untuk calon pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dianggap perlu dievaluasi. Hal ini agar program tersebut sejalan dengan tujuannya dalam mencetak pengelola koperasi yang efektif.

Wakil Ketua Komisi VI DPR, Adisatrya Suryo Sulisto, menekankan pentingnya evaluasi manfaat dan relevansi program tersebut. “Yang paling utama adalah evaluasi terkait program ini, manfaatnya, dan juga kecocokannya untuk tujuan para partisipan ini menjadi pengurus Koperasi Desa Merah Putih,” ujar Adi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026.

Sebagai mitra kerja Kementerian Koperasi, Komisi VI DPR mempertanyakan kesesuaian latihan dasar militer (Latsarmil) dengan keterampilan manajerial yang dibutuhkan calon pengurus koperasi. Kemampuan utama yang diperlukan para calon pengurus adalah manajemen, bukan sekadar ketahanan fisik.

“Yang harus diutamakan adalah skill mereka dalam manajemen, dalam melakukan pembukuan yang baik, bagaimana menyetok barang, inventaris barang, dan lain sebagainya,” sambungnya.

Adi menilai materi pelatihan yang lebih relevan di tingkat desa adalah yang mendukung pengelolaan koperasi secara profesional. Meskipun ia tidak memandang sebelah mata pentingnya kondisi fisik, ia meragukan kecocokan Latsarmil untuk calon pengurus koperasi.

“Betul para calon ini harus sehat, kami mendukung itu. Tapi apakah latihan dasar militer ini cocok dengan orang-orang yang mencalonkan diri untuk menjadi pengurus,” tegas Adi.

Jika pelatihan fisik itu tetap diadakan, Adi mengusulkan agar pemerintah melakukan pemeriksaan kesehatan yang ketat sebelum kegiatan. “Kalau memang itu mau diadakan, pertama harus dicek betul kondisi kesehatan mereka setiap orangnya,” imbuhnya.

Adi juga mengingatkan bahwa belum tentu semua peserta memiliki kesehatan yang cocok untuk mengikuti pelatihan fisik tersebut. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah untuk mengevaluasi kembali seluruh modul pelatihan Sistem Pembinaan dan Pemberdayaan Koperasi Indonesia (SPPI).

“Harus dievaluasi ulang program ini, modul-modulnya apa saja. Kesehatan itu penting, tetapi yang lebih diutamakan adalah skill mereka, meningkatkan pengetahuan mereka dari segi manajemen,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button