Negara Kawasan Percayai Kekuatan Industri Pertahanan RI

Jakarta, Maret.id — Indonesia semakin diperhitungkan dalam peta geopolitik regional setelah menandatangani kontrak strategis dengan Angkatan Laut Filipina.
Kontrak tersebut mencakup pengadaan kapal LPD generasi terbaru yang direncanakan diluncurkan pada 30 Juni 2026 di galangan PT PAL Surabaya.
Kapal sepanjang 124 meter ini merupakan bagian dari pesanan ulang setelah keberhasilan PT PAL dalam membangun kapal Strategic Sealift Vessel (SSV) BRP Tarlac dan BRP Davao del Sur.
Dua SSV ini telah menjadi tulang punggung operasi amfibi Angkatan Laut Filipina. Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai pesanan tersebut menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain strategis dalam industri pertahanan kawasan.
“Repeat order dalam industri pertahanan bukan sekadar soal kualitas produk. Ini menunjukkan adanya kepercayaan strategis,” kata Amir.
Lebih lanjut, Amir mengungkapkan bahwa negara pembeli tidak hanya bertransaksi kapal, tetapi juga mempercayakan sebagian dari keamanan nasionalnya kepada negara pemasok.
Ia juga mencatat bahwa peningkatan kemampuan militer Filipina sejalan dengan meningkatnya tensi keamanan di Laut China Selatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Filipina terus berupaya memperkuat militernya setelah insiden yang melibatkan kapal penjaga pantai China di wilayah sengketa.
Kapal LPD memiliki peranan krusial dalam operasi modern, di mana kapal ini dapat mengangkut pasukan, kendaraan tempur, logistik, serta berperan sebagai pusat komando dalam misi militer dan kemanusiaan.
“Filipina membutuhkan kemampuan mobilisasi cepat antarpulau dan kemampuan proyeksi kekuatan maritim,” ujar Amir.
Modernisasi armada Filipina merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan daya tangkal terhadap berbagai ancaman di kawasan Indo-Pasifik.
Oleh karena itu, Manila kini aktif memperkuat kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan mitra regional lainnya.





