Ony Setiawan Tegaskan Relevansi Marhaenisme di Era Neoliberalisme

Jakarta, Maret.id — Anggota DPRD Jawa Timur Ony Setiawan menilai bahwa Marhaenisme dan nilai-nilai Pancasila tetap relevan dalam menghadapi ketergantungan ekonomi yang dipicu oleh neoliberalisme dan neokolonialisme.
Ony, yang merupakan bagian dari Fraksi PDI Perjuangan, menegaskan bahwa pemikiran Bung Karno tentang Marhaenisme diperlukan untuk menjawab tantangan ekonomi di era modern.
Ia mengemukakan bahwa kolonialisme telah bertransformasi menjadi ketergantungan ekonomi yang memerlukan Pancasila sebagai pijakan pembangunan yang kuat.
“Pemikiran radikal Bung Karno tentang anti-kolonialisme dan imperialisme melahirkan Marhaenisme, yang hingga kini relevan dalam menghadapi dinamika ekonomi global,” tutur Ony.
Ia menambahkan bahwa pentingnya pemahaman terhadap ajaran Bung Karno menjadi dasar bagi kader PDI Perjuangan dalam bertindak di pemerintahan.
“Sehingga bagi kader PDI Perjuangan harus mengenal dan memahami pemikiran-pemikiran Soekarno. Itu juga yang mendasari posisi PDI Perjuangan dalam pemerintahan saat ini sebagai partai penyeimbang,” tegasnya.
Ony menjelaskan bahwa Marhaenisme adalah ideologi yang berpihak kepada rakyat kecil yang memiliki alat produksi tetapi belum merasakan kesejahteraan karena sistem ekonomi yang tidak adil.
Bung Karno merumuskan Marhaenisme melalui tiga pilar utama, yaitu Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai fondasi untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.
Ia juga menekankan bahwa Pancasila tidak hanya sekadar dokumen formal, melainkan harus diwujudkan dalam kebijakan yang menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
“Bagi Bung Karno, Pancasila adalah philosophische grondslag dan Weltanschauung yang digali dari nilai-nilai bangsa Indonesia. Marhaenisme menjadi pisau analisis agar Pancasila tidak sekadar menjadi hafalan atau pajangan,” imbuhnya.
Oleh karena itu, Ony percaya bahwa tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini bukan lagi dalam bentuk kolonialisme fisik, tetapi ketergantungan ekonomi.
“Jika dahulu kolonialisme bersifat fisik, kini imperialisme menjelma menjadi neoliberalisme dan neokolonialisme yang menciptakan ketergantungan ekonomi pada investasi asing yang tidak mendukung kepentingan lokal,” pungkasnya.





