Jokowi Awali Safari di Lampung untuk Atasi Tanah Tak Bertuan

Jakarta, Maret.id — Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia (ASI), Ali Rif’an, berpendapat bahwa pemilihan di Lampung dikemas dalam konteks sejarah, budaya, dan kalkulasi politik yang mendalam.
“Lampung dipilih karena beberapa alasan. Selain memang punya simbol gajah yang kebetulan menjadi logo baru PSI, Lampung juga secara basis adalah Jawa,” ujar Ali dalam sebuah podcast Siber pada Minggu, 5 Juli 2026.
Ia menolak anggapan bahwa pemilihan Lampung merupakan sebuah kebetulan. “Di dalam politik itu semuanya berbasis agenda. Politik tidak berjalan di ruang kosong. Selalu ada agenda politik di balik setiap langkah,” tegasnya.
Dari perspektif demografi, Lampung memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Sumatera. Mayoritas penduduknya merupakan keturunan transmigran, terutama dari Pulau Jawa. “Banyak transmigran asal Jawa yang kini menjadi orang Lampung. Ada asosiasi sosiologis yang bisa dibangun di sana, mengingat Jokowi adalah presiden ketujuh yang berasal dari Jawa,” jelasnya.
Lebih jauh, Alam mengungkapkan bahwa Lampung merupakan wilayah dengan daya tarik elektoral yang tinggi karena tingkat volatilitas pemilih yang besar. “Kalau saya cek datanya, Lampung secara elektoral memiliki volatilitas yang tinggi. Artinya, tidak ada tuannya,” ungkap Ali.
Peta kemenangan partai politik di Lampung terus berubah pada setiap pemilu sejak penerapan sistem proporsional terbuka. Pada tahun 2004, Lampung dimenangkan oleh Partai Golkar, diikuti oleh Demokrat pada 2009, PDIP pada 2014 dan 2019, serta Gerindra pada tahun 2024.
Karena itu, Ali menilai bahwa karakter pemilih di Lampung sangat cair dan tidak memiliki loyalitas permanen kepada satu partai politik. “Corak pemilihnya cair, mirip Jawa Barat. Tidak ada partai yang konsisten menjadi pemenang,” pungkasnya.





