Politik

Survei IndexMundi, Burhanuddin Muhtadi Sebut Cacat Metodologi

Jakarta, Maret.id — Dalam laporan terbaru, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) memperoleh skor ketidakpercayaan publik sebesar 7,56.

Namun, hasil tersebut menjadi sorotan kritis dari kalangan akademisi terkait validitas metodologi pengumpulan datanya yang dianggap lemah.

Founder sekaligus Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menegaskan bahwa kritik utama lebih difokuskan pada metodologi penelitian daripada objek yang dinilai.

“Kelemahan utama metodologi IndexMundi Global Surveys terletak pada penggunaan survei online terbuka (open web-based polling) tanpa kontrol sampel yang ketat,” ujar Burhanuddin kepada wartawan pada Senin, 6 Juli 2026.

Ia menjelaskan bahwa model pengumpulan data acak di internet tidak mencerminkan realitas populasi yang sebenarnya.

“Data yang dihasilkan mencerminkan persepsi subjektif pengguna internet, bukan data statistik empiris yang terverifikasi secara ilmiah,” lanjutnya.

Burhanuddin memaparkan beberapa kelemahan mendasar dari sistem yang digunakan oleh IndexMundi Global Surveys.

Salah satu sorotan ilmiah adalah adanya bias sampel (sampling bias). Partisipan riset ini terbatas pada individu yang memiliki akses internet dan memahami bahasa yang digunakan di situs tersebut.

Kondisi ini mengakibatkan sampel yang tidak representatif karena tidak dipilih melalui metode acak murni (random sampling).

Selain itu, sistem pengumpulan data tersebut juga berisiko terhadap manipulasi atau self-selection bias.

“Tanpa verifikasi identitas, sistem pengisian yang longgar membuka celah bagi individu atau kelompok untuk mengisi survei berkali-kali menggunakan VPN atau perangkat berbeda,” jelas Burhanuddin.

Ia juga mengkritik minimnya transparansi dari pihak IndexMundi, terutama terkait dengan apa yang ia sebut sebagai “jumlah sampel gaib”.

Burhanuddin mengingatkan bahwa instrumen IndexMundi hanya merekam dinamika persepsi di ruang digital, bukan potret fakta objektif di lapangan.

Atas dasar kelemahan metodologis itu, komunitas ilmiah global umumnya tidak menjadikan data ini sebagai rujukan.

“Oleh karena itu, organisasi internasional dan akademisi menolak menggunakan IndexMundi Global Surveys sebagai rujukan ilmiah utama,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button