Politik

Taruna Akmil Pelajari Sun Tzu dan Doktrin Pertahanan Nasional

Jakarta, Maret.id — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan pentingnya kepemimpinan militer modern dalam sesi diskusi interaktif dengan taruna di Akademi Militer Magelang, Jawa Tengah.

AHY menekankan bahwa keberanian di medan tugas saja tidak cukup; pemimpin militer juga harus memiliki kemampuan berpikir strategis serta memahami dinamika lingkungan global.

Menurutnya, pemikiran Carl von Clausewitz dalam “On War” menunjukkan bahwa perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain. “Seorang perwira harus memahami tujuan politik nasional yang lebih besar,” tegas AHY.

Hal ini berarti para perwira tidak hanya fokus pada aspek operasional di lapangan, tetapi juga pada konteks politik yang lebih luas. “Clausewitz mengingatkan kita bahwa kekuatan militer harus selalu terhubung dengan tujuan negara,” imbuh AHY.

AHY juga merujuk pada pemikiran Sun Tzu yang menekankan pentingnya kecerdasan dan antisipasi. Menurutnya, “Kemenangan terbaik adalah yang dicapai tanpa harus bertempur.” Ini menunjukkan perlunya pencegahan terhadap ancaman sejak awal.

Dalam konteks Indonesia saat ini, ia menggarisbawahi kesiapan menghadapi berbagai tantangan, seperti disrupsi teknologi dan ancaman siber. “Kesiapan ini adalah bagian dari strategi pertahanan modern yang harus dipahami oleh para calon perwira,” ujar AHY.

Ia menambahkan, “Hari ini, medan bukan hanya daratan, laut, dan udara, tetapi juga ruang siber, teknologi, ekonomi, dan informasi.” Para perwira masa depan harus siap memimpin dalam lingkungan yang kompleks ini.

Prinsip “Si Vis Pacem, Para Bellum” tetap relevan, menurut AHY. “Perdamaian tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dijaga melalui kesiapan, profesionalisme, dan kemampuan bangsa untuk membangun kekuatan nasional yang tangguh,” tutup AHY.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button