Politik

Amithya: Kudatuli Harus Perkuat Kapasitas Intelektual Kader PDIP

Jakarta, Maret.id — Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, mengingatkan pentingnya peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli sebagai bentuk perenungan yang tidak hanya berhenti pada romantisme sejarah. Menurutnya, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas intelektual dan ideologis kader, terutama generasi muda.

Pernyataan ini disampaikan Amithya saat acara sarasehan bertajuk “Refleksi 30 Tahun Tragedi Kudatuli: Kami Tidak Lupa” yang diselenggarakan di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Malang, Minggu malam. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran struktural partai, kader senior, serta masyarakat umum.

Acara ini tidak hanya diadakan untuk mengenang sejarah perjuangan partai, tetapi juga sebagai sarana pendidikan politik untuk kader muda yang mulai aktif di kepengurusan hingga tingkat ranting. “Refleksi hari ini dimaksudkan untuk menilik kembali sejarah dan memastikan kita tidak kehilangan ingatan kolektif,” tutur Amithya.

Ia menekankan bahwa pemahaman sejarah perlu disertai dengan peningkatan kualitas kader agar dapat menghadapi tantangan zaman. Amithya mengingatkan agar kader tidak terjebak dalam romantisme sejarah, melainkan berfokus pada pengembangan kapasitas intelektual dan ideologis.

Acara sarasehan ini juga menghadirkan akademisi Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi Kusman, Ph.D., yang juga merupakan Kepala Pascasarjana Politik FISIP Unair. Dalam paparan tersebut, Airlangga menilai bahwa generasi muda memiliki kesadaran tinggi terhadap isu-isu kebangsaan meskipun berada dalam era digital dan perkembangan kecerdasan buatan.

“Mereka sangat paham dengan persoalan bangsa dan sadar politik. Kami semua sedang menghadapi tekanan politik,” ujarnya. Airlangga percaya bahwa dengan kapasitas intelektual yang dimiliki, generasi muda akan terus melawan.

Menurutnya, generasi muda perlu diberi ruang yang tepat untuk menyalurkan gagasan dan berkontribusi dalam perubahan sosial. “Kaum muda hanya butuh instrumen untuk mengartikulasikan keresahan-keresahan mereka,” imbuhnya.

Refleksi Kudatuli juga diisi dengan pembacaan puisi karya Wiji Thukul dan monolog Mahkota yang Terlalu Berat karya Dimas Novip, sebagai penghormatan terhadap semangat perjuangan demokrasi. Menutup acara, Amithya berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat komitmen kader untuk selalu berpihak kepada rakyat.

“Semoga diskusi hari ini semakin menumbuhkan komitmen kita untuk terus hadir sebagai partai yang selalu berpihak kepada rakyat,” tutup Amithya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button