Prabowo Perkuat Iklim Investasi Melalui IIFC di Indonesia

Jakarta, Maret.id — Modal populasi lebih dari 280 juta jiwa dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah belum menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi internasional yang utama. Hal ini disampaikan oleh pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, merespons rencana Presiden Prabowo Subianto untuk membentuk Indonesia International Financial Center (IIFC).
Amir menekankan bahwa investor global tidak hanya mempertimbangkan potensi keuntungan tetapi juga menghitung berbagai risiko, termasuk aspek hukum dan kepastian regulasi. “Modal internasional selalu bergerak menuju wilayah yang memberikan kepastian. Karena itu, keberhasilan IIFC sangat bergantung pada kualitas tata kelola yang dibangun sejak awal,” tegas Amir.
Dia menambahkan bahwa keputusan Presiden Prabowo untuk mempercepat pembentukan IIFC menunjukkan kesadaran akan perlunya instrumen baru untuk menarik arus investasi global. Di tengah ketatnya kompetisi, perubahan lanskap ekonomi dunia pascapandemi dan konflik geopolitik telah memaksa investor mencari pusat keuangan yang lebih stabil.
“Dalam perspektif geopolitik, dunia sedang mengalami redistribusi investasi. Banyak perusahaan internasional mulai melakukan diversifikasi lokasi investasi agar tidak bergantung pada satu kawasan. Ini peluang besar bagi Indonesia,” imbuh Amir.
Ia juga menilai Bali memiliki nilai strategis sebagai lokasi utama IIFC karena reputasinya sebagai destinasi internasional dengan konektivitas global yang kuat. Namun, Amir memahami bahwa memulai operasional dari Jakarta adalah langkah yang realistis.
“Jakarta sudah memiliki ekosistem perbankan, pasar modal, regulator, dan jaringan lembaga keuangan. Sementara Bali dapat dipersiapkan menjadi kawasan keuangan internasional dengan karakter global dalam beberapa tahun ke depan,” pungkas Amir.





