Pertumbuhan Ekonomi Harus Berdampak Positif bagi Masyarakat

Jakarta, Maret.id — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah tantangan global yang signifikan, meskipun lebih rendah dari pertumbuhan Triwulan I yang sebesar 5,61 persen.
“Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Semester I 2026 mencapai sekitar 5,45 persen. Ini menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah perlambatan ekonomi global, tingginya ketidakpastian geopolitik, dan masih ketatnya kondisi keuangan internasional,” tutur Handi, Ekonom Universitas Paramadina, dalam keterangan resmi yang dirilis pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan tahunan ekonomi dalam periode tersebut masih menandakan resiliensi, namun Handi menekankan lima catatan strategis untuk memperkuat kualitas pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertama, investasi produktif dan ekspor perlu diperkuat. Handi mengingatkan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi saat ini masih banyak ditopang oleh konsumsi domestik dan stimulus fiskal.
Kedua, transformasi sektor industri harus dipercepat. Meskipun kontribusi sektor manufaktur besar, produktivitas dan penciptaan lapangan kerja masih belum optimal.
“Perlu kebijakan pendalaman sektor industri, terutama melalui hilirisasi, agar nilai tambah yang dihasilkan semakin besar dan dinikmati di dalam negeri,” imbuh Handi.
Ketiga, sektor pertanian dan industri halal harus diperkuat. Handi menilai keduanya memiliki dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dan pengurangan kemiskinan, serta peningkatan nilai tambah domestik.
“Pertanian dan industri halal harus menjadi bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi nasional,” kata Handi.
Keempat, kualitas belanja negara perlu ditingkatkan. Pemerintah harus lebih memfokuskan belanja produktif yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Akhirnya, menjaga disiplin fiskal menjadi krusial. Handi menekankan pentingnya optimasi penerimaan negara dan efisiensi belanja untuk menjaga kesehatan fiskal jangka panjang.
Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen pada Triwulan II 2026 dianggap sebagai momentum yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat transformasi ekonomi. “Pertumbuhan ekonomi harus diarahkan menjadi lebih tinggi, berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkas Handi.





