Politik

NU Pertimbangkan Kembali Jadi Parpol Jika Terus Cawe

Jakarta, Maret.id — Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah kandidat calon Ketua Umum PBNU mulai mencuat ke permukaan.

Pengamat politik Adi Prayitno berharap forum tersebut menjadi momentum bagi NU untuk kembali fokus pada khitahnya dalam mengurus umat dan bangsa.

“Banyak pihak yang berharap semoga salah satu hasil dari Muktamar NU kali ini adalah supaya NU fokus mengurus umat dan tidak bicara yang lainnya,” tuturnya melalui kanal Youtube, Senin, 10 Agustus 2026.

Ia menekankan bahwa kepengurusan PBNU mendatang diharapkan dapat menjaga jarak dari kepentingan politik elite maupun kontestasi elektoral. Dengan demikian, NU dapat kembali berperan sebagai organisasi kemasyarakatan yang fokus pada pembinaan dan pemberdayaan umat.

“Diharapkan NU tidak lagi cawe-cawe dalam urusan politik atau elite PBNU yang kemudian asyik terindikasi dalam urusan politik elektoral,” imbuh Adi.

Ia menegaskan bahwa NU seharusnya tidak diseret ke dalam kepentingan politik pragmatis. Menurut Adi, khitah NU adalah mengurus umat dan menjaga kepentingan kebangsaan.

“Kalau ada oknum di PBNU punya intensi untuk menyeret NU dalam urusan politik elektoral, mungkin sudah saatnya NU bertransformasi kembali menjadi partai politik,” tegasnya.

Adi menilai pilihan tersebut lebih jelas daripada NU tetap berstatus sebagai ormas namun tetap terlibat dalam politik praktis.

“Jangan setengah-setengah. Kalau memang jadi ormas tetapi dalam perkembangannya selalu cawe-cawe, terlibat, ataupun cenderung ditarik dalam urusan politik praktis, kenapa tidak sebaiknya NU kembali menjadi partai politik?” ujarnya.

Adi juga mengingatkan bahwa NU memiliki sejarah sebagai kekuatan politik. Di masa lalu, NU pernah menjadi salah satu partai politik dengan kekuatan yang signifikan, terutama pada era Orde Lama.

Ia berharap Muktamar ke-35 NU yang akan digelar akhir Agustus 2026 dapat menghasilkan kepengurusan yang mampu mengembalikan fokus organisasi pada pemberdayaan umat, pembangunan bangsa, dan menjauhkan diri dari politik praktis.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button