Politik

DPRD Pangkahkulon Tertarik Polikultur Rumput Laut dan Bandeng

Jakarta, Maret.id — Inovasi budidaya rumput laut yang dikombinasikan dengan ikan bandeng dan udang (polikultur) di Desa Pangkahkulon, Gresik, menarik perhatian anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat.

Pada kunjungannya ke lokasi budidaya pada Senin (10/8/2026), Nasikhul Khakim, Anggota Komisi II DPRD Gresik, menyatakan ketertarikan untuk menerapkan metode ini di tambak miliknya di Duduksampeyan.

Ia menjelaskan bahwa karakteristik wilayah perairan payau di Duduksampeyan mirip dengan Pangkahkulon. “Ini nanti saya coba di tambak Duduksampeyan, karena memiliki karakteristik tambak yang sama yakni air payau,” tutur Nasikhul.

Menurutnya, metode polikultur ini dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan tambak dan membuka peluang pendapatan tambahan bagi petambak lokal.

Di Pangkahkulon, metode ini telah diterapkan oleh sekitar 30 petani di lahan seluas 70 hektare. Dalam sebulan, produksi rumput laut jenis Gracilaria mencapai 30 ton basah. Keberhasilan ini dianggap sebagai contoh yang patut dicontoh oleh daerah lain dengan ekosistem serupa.

Ricke Mayumi, anggota Komisi II DPRD Gresik lainnya, juga memberikan apresiasi. Ia memuji kreativitas petambak Pangkahkulon yang mampu melihat peluang pasar tanpa mengabaikan komoditas utama, yaitu ikan bandeng.

“Petambak tidak hanya bergantung pada bandeng, tetapi bisa melihat potensi rumput laut yang ternyata pasarnya cukup bagus,” kata Ricke.

Ia menambahkan bahwa pola budidaya ganda ini memberi nilai tambah, karena hasil panen rumput laut bisa dipanen secara berkala sembari menunggu masa panen bandeng dan udang.

Ahmad Fauron, Kepala Desa Pangkahkulon, menjelaskan bahwa keberadaan rumput laut jenis Gracilaria berkontribusi positif terhadap ekosistem tambak dan pertumbuhan ikan bandeng.

“Bahkan, setelah ada rumput laut ini, ikan bandeng perkembangannya bagus, bahkan air di tambak bening, seperti di akuarium,” ungkap Fauron.

Ia menekankan bahwa rumput laut dari Pangkahkulon tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi saat dijual mentah, tetapi juga berpotensi diolah menjadi berbagai produk turunan, seperti bahan pangan dan kosmetik.

Fauron menambahkan bahwa hasil produksi rumput laut kini tidak hanya disiapkan untuk pasar domestik, tetapi juga untuk pasar internasional. Koperasi yang menaungi para petambak telah memperoleh sertifikat HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points).

“Inovasi ini memungkinkan satu lahan tambak dimanfaatkan secara maksimal tanpa saling mengganggu antar-komoditas. Potensinya cukup besar,” pungkas Fauron.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button