Indonesia Harus Hindari Konflik Rivalitas China

Jakarta, Maret.id — Rencana latihan Angkatan Laut China dan Indonesia di perairan timur Taiwan telah menimbulkan perhatian geopolitik baru di kawasan Indo-Pasifik. Taiwan mengeluarkan protes terkait kegiatan tersebut dan meminta klarifikasi dari Indonesia, menilai latihan itu berpotensi mengganggu status quo.
Kementerian Pertahanan China sebelumnya mengumumkan latihan bersama yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Agustus. Materi latihan meliputi komunikasi, manuver formasi, dan pengisian logistik di laut.
Taiwan, melalui Mainland Affairs Council (MAC), mengkategorikan latihan tersebut sebagai tindakan berbahaya. Taipei menilai bahwa Beijing sedang berusaha menciptakan persepsi bahwa China memiliki yurisdiksi atas perairan di sebelah timur Taiwan.
Dari sisi Indonesia, kegiatan ini dipandang sebagai latihan rutin dan tidak ada kaitannya dengan operasi militer. “Latihan ini bukan untuk persiapan perang,” kata seorang pejabat dari Kementerian Pertahanan Indonesia.
Amir Hamzah, pengamat intelijen dan geopolitik, menyatakan bahwa persoalan ini tidak bisa hanya dilihat dari aspek teknis militer. “Persoalan terpenting adalah mengapa latihan tersebut dilakukan di kawasan timur Taiwan dan mengapa Indonesia dilibatkan,” tutur Amir.
Ia menambahkan bahwa lokasi latihan sering kali memiliki makna strategis yang lebih besar. “Kehadiran kapal perang Indonesia di kawasan sensitif ini membawa dimensi politik dan strategis tersendiri,” jelas Amir.
Secara militer, kapal Indonesia tidak langsung menunjukkan ancaman terhadap Taiwan. Pejabat militer Taiwan juga mencatat bahwa kapal Indonesia berada sekitar 70–80 mil laut dari pantai timur Taiwan dan bukan bertujuan untuk latihan bersama dengan China.
Namun, Amir mengingatkan bahwa perspektif geopolitik mengubah situasi. “Kawasan timur Taiwan merupakan ruang strategis yang berkaitan dengan potensi konflik China-Taiwan,” imbuh Amir.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia terlibat dalam aktivitas militer dengan China yang dapat ditafsirkan oleh pihak luar sebagai bagian dari meningkatnya keterlibatan Beijing di Indo-Pasifik.
Saat ini, China terus meningkatkan tekanan militernya terhadap Taiwan. Sementara itu, Taipei memperkuat kemampuan pertahanannya, dan Amerika Serikat, bersama sejumlah sekutunya, terus memantau perkembangan keamanan di kawasan tersebut.
Dalam konteks intelijen, Amir menegaskan bahwa latihan militer bisa berfungsi sebagai instrumen komunikasi strategis. “Latihan ini menunjukkan kemampuan bekerja sama dan menguji respons negara-negara di sekitarnya,” kata Amir.
Ia menambahkan, “Kita harus melihat konteks lokasi, waktu, dan siapa yang terlibat dalam latihan ini.”





