Kisah Marfel, Bocah 11 Tahun yang Belajar Kemandirian di DPD PDI Perjuangan Jawa Timur

Jakarta, Maret.id — Marfelino Dhuha Saputra, seorang anak berusia 11 tahun, menjalani kehidupan yang jauh dari masa kecilnya.
Setiap hari, selepas pulang sekolah, Marfel tidak segera bermain seperti rekan-rekannya. Ia memilih untuk merawat ibunya, Kumala, yang telah menderita gangguan kesehatan selama dua tahun terakhir.
Dengan penuh tanggung jawab, Marfel bertugas memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Begitu sampai di rumah, Marfel langsung menyiapkan makanan sederhana untuk mereka berdua sebelum berangkat ke sekolah.
Hari itu, Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, berkunjung untuk melihat kondisi Marfel dan ibunya. Dengan mengenakan seragam sekolah, Marfel menyambut bupati dengan ramah di rumah sederhana mereka di Desa Ngancar.
Dalam perbincangan yang hangat, Mas Dhito, sapaan akrab bupati, menggali lebih dalam kehidupan sehari-hari Marfel. “Kamu bisa masak?” tanya Mas Dhito. “Bisa, masak jangan apa saja, asal diberitahu caranya,” jawab Marfel dengan polos.
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu mengungkapkan tanggung jawab besar yang telah disandang Marfel sejak kelas 3 SD. Ia belajar menjalani peran dewasa lebih awal.
Bupati Kediri mengamati keberanian dan ketangguhan Marfel. “Marfel adalah anak yang luar biasa,” tuturnya. “Tanggung jawab yang ia pikul tidak mudah untuk anak seumurannya.”
Meskipun awalnya berat, Marfel kini tergolong biasa dengan tanggung jawab tersebut. Ia melaksanakan semua pekerjaan rumah sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari.
“Jangan lupa ibadah dan tetap sekolah,” pesan Mas Dhito kepada Marfel sebagai pengingat untuk tidak mengabaikan pendidikan dan kewajiban spiritualnya.
Sebelum meninggalkan rumah, Mas Dhito memberikan nomor ponselnya kepada Marfel. “Kalau ada apa-apa, dia sewaktu-waktu boleh hubungi saya,” imbuhnya.
Hari itu, meskipun banyak yang tidak berubah di rumah kecil mereka, Marfel merasa ada harapan baru. Ia tahu tidak sendirian dalam menghadapi semua ini.
Keesokan harinya, Marfel akan kembali melanjutkan rutinitasnya: menyiapkan makanan, pergi ke sekolah, serta belajar dan bermain. Ia tetap seorang anak yang berhak bermimpi dan memiliki masa depan, meskipun beban tanggung jawabnya begitu besar.





