Politik

81 Tahun Indonesia Merdeka, Kesetaraan Perempuan Masih Jauh

Jakarta, Maret.id — Populasi perempuan di Indonesia diperkirakan mencapai hampir separuh dari total penduduk, namun tantangan untuk mencapai kesetaraan tetap ada. Haghia Sophia Lubis, seorang pengacara bidang hukum keuangan internasional, mencatat bahwa meskipun ruang untuk perempuan semakin terbuka, hal itu belum diimbangi dengan kesempatan yang setara.

“Perempuan Indonesia hari ini memiliki ruang yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya, tetapi ruang tersebut belum selalu menghasilkan kesempatan yang setara,” ujar Haghia dalam pernyataannya di Jakarta.

Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perempuan di Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 140,9 juta dari total 284,4 juta penduduk. Haghia menekankan pentingnya menyikapi hambatan-hambatan, seperti “glass ceiling,” yang sering kali menghalangi perempuan untuk mencapai posisi kepemimpinan.

“Persoalan yang saya lihat justru sering muncul pada jenjang menengah menuju jenjang kepemimpinan, atau the glass ceiling,” tambahnya.

Tantangan semakin rumit saat perempuan memasuki fase keluarga. Tanggung jawab domestik dapat menciptakan beban ganda, di mana perempuan harus menyeimbangkan antara pekerjaan profesional dan pekerjaan rumah tangga.

Haghia menggarisbawahi bahwa kemandirian ekonomi adalah kunci untuk memperkuat posisi perempuan. “Kemandirian ekonomi memberikan perempuan pilihan dan posisi tawar ketika menghadapi situasi yang tidak sehat, termasuk KDRT,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa kesetaraan tidak seharusnya memaksa perempuan memilih antara karier dan keluarga. “Perempuan tidak seharusnya dipaksa memilih antara menjadi ibu yang baik dan menjadi profesional yang baik,” tegasnya.

Di sisi lain, kekerasan berbasis gender masih menjadi masalah besar. Komnas Perempuan mencatat 376.529 kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2025, meningkat sebesar 14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hampir 90 persen dari kasus ini terjadi dalam ranah personal.

Memasuki usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, Haghia menilai bahwa tantangan perempuan kini adalah memastikan bahwa akses yang telah terbuka dapat berlanjut. “Pintu itu sudah mulai terbuka. Tantangan berikutnya adalah memastikan perempuan tidak berhenti di tengah perjalanan karena sistem kerja dan struktur sosial belum mengakomodasi realitas kehidupannya,” tuturnya.

Ia juga berpendapat bahwa kemerdekaan perempuan berarti kemampuan untuk menentukan pilihan, mulai dari pendidikan hingga posisi kepemimpinan. “Ketika hampir separuh penduduk Indonesia adalah perempuan, memastikan mereka dapat mencapai potensi terbaiknya bukan hanya agenda perempuan. Itu adalah kepentingan Indonesia,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button