Marhaenisme dan Relevansi Pemikiran Bung Karno di DPD PDIP Jatim

Jakarta, Maret.id — Pidato Presiden Prabowo Subianto di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, pada 14 Agustus 2026, menghadirkan kembali pemikiran Marhaenisme. Konsep ini muncul dari pemikiran Bung Karno yang membahas nasib rakyat kecil, dengan fokus pada kondisi ekonomi Indonesia saat ini.
Pendapat Prabowo mengundang diskusi tentang relevansi pemikiran Bung Karno di era modern. “Marhaenisme harus dibaca dalam konteks yang sesuai dengan zaman,” kata Prabowo, mencerminkan kebutuhan untuk memahami tantangan ekonomi saat ini.
Bagi generasi muda, istilah Marhaen mungkin terdengar usang, tetapi akar konsep ini berasal dari pengalaman nyata sehari-hari rakyat Indonesia. Dalam autobiografinya, Bung Karno mengenang momen saat ia bertemu seorang petani bernama Marhaen yang menggambarkan kesulitan meskipun memiliki alat produksi sendiri.
Kisah petani Marhaen, yang berseragam dengan realitas saat ini, menunjukkan bahwa meskipun alat produksi telah berubah, tantangan yang dihadapi tetap sama. “Marhaen hari ini adalah petani yang berjuang dengan biaya produksi dan harga panen yang tidak menentu,” kata Prabowo.
Istilah Marhaenisme menjadi penting di tengah perubahan ekonomi digital. “Seorang pengemudi aplikasi menghadapi tantangan baru, meskipun memiliki kendaraan dan ponsel,” ujar Prabowo, menyoroti ketidakberdayaan dalam struktur ekonomi yang lebih luas.
Marhaenisme relevan dalam mendiskusikan hubungan yang timpang dalam produksi dan distribusi. Sebagaimana diungkapkan Bung Karno, “Kemerdekaan harus berdampak pada kehidupan dan kesejahteraan rakyat.” Dalam pidato 1 Juni 1945, ia menekankan pentingnya demokrasi ekonomi.
Sen sebagai pemikir modern juga menemukan kesesuaian dengan gagasan Bung Karno. “Pembangunan harus memperluas kebebasan nyata manusia,” tulis Sen, menggambarkan bagaimana relevansi Marhaenisme bertahan hingga kini.
Pemerintah, menurut Prabowo, harus berperan mengatasi ketidaksetaraan yang dihadapi Marhaen. “Kita harus membantu petani dengan teknologi dan akses pasar yang lebih baik,” tegas Prabowo. Dengan demikian, fokus pembangunan ekonomi harus menjangkau semua lapisan masyarakat.
Sebagai bagian dari pemerintahan, hilirisasi menjadi topik penting. “Pertanyaannya bukan hanya siapa yang meraih keuntungan, tetapi bagaimana membawa manfaat bagi seluruh masyarakat,” kata Prabowo, menekankan pentingnya menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Mendorong pertumbuhan ekonomi harus seiring dengan distribusi kesempatan. “Kita tidak bisa mengabaikan siapa yang mengontrol sumber daya dan teknologi,” ujar Prabowo, menekankan perlunya memberdayakan setiap lapisan masyarakat.
Kendati pemikiran Bung Karno muncul hampir satu abad lalu, tantangan yang dihadapi rakyat saat ini masih sama. “Bagaimana kita memastikan setiap orang bisa menentukan kehidupannya sendiri?” tanya Prabowo, mengajak semua untuk merenungkan.
Penting untuk melihat bagaimana gagasan Marhaenisme dapat diterapkan dalam kebijakan pemerintah. “Kita perlu membuktikan bahwa kehidupan masyarakat dapat berubah ke arah yang lebih baik,” sambung Prabowo, menggugah kesadaran akan tanggung jawab bersama.
Relevansi pemikiran Bung Karno terletak pada pertanyaan mendasar yang hingga kini masih relevan. “Untuk siapa sebenarnya pembangunan ini dibuat?” tutup Prabowo, menantang semua pihak untuk berpikir dan bertindak demi kesejahteraan rakyat.





