Trenggalek Kembangkan Bawang Putih untuk Kurangi Impor, DPD PDIP Jatim

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Kabupaten Trenggalek kini tengah mengembangkan budidaya bawang putih untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Inisiatif ini diharapkan juga berfungsi sebagai alternatif pendapatan bagi para petani setempat.
Awal pengembangan dilakukan di Desa Karanganyar, Kecamatan Pule, dengan lahan percontohan seluas 1,5 hektare. Area ini terletak di pegunungan pada ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, yang akrab disapa Mas Ipin, mengungkapkan bahwa karakter geografis wilayah ini mendukung untuk budidaya bawang putih. Meskipun begitu, tantangan tetap ada karena para petani di Pule lebih terbiasa menanam sayuran.
“Bawang putih ini menjadi tantangan sendiri. Mudah-mudahan nantinya berhasil. Karena kalau melihat lokasinya, cocok untuk ditanami,” ujar Mas Ipin.
Menurutnya, pengembangan bawang putih memiliki peluang strategis mengingat kebutuhan pasar yang cukup tinggi. Selama ini, Indonesia masih bergantung pada bawang putih impor dari luar negeri.
Jika budidaya di Trenggalek sukses, hasil produksinya tidak hanya akan menjadi sumber pendapatan alternatif bagi petani, tetapi juga dapat memenuhi kebutuhan pasar lokal. “Karena permintaan bawang putih tinggi dan pasarnya terbuka lebar. Ini tantangan bagi kita, utamanya para petani. Jika berhasil tentu bisa swasembada pangan bawang putih,” imbuh Mas Ipin.
Mas Ipin menjelaskan bahwa perkembangan ini bagian dari program Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang dilaksanakan di 17 provinsi. Trenggalek akan memanfaatkan potensi kawasan pegunungan untuk penanaman.
Ia juga menambahkan bahwa potensi pengembangan bawang putih tidak hanya terbatas di Kecamatan Pule. Beberapa daerah lain, termasuk Kecamatan Bendungan dan Munjungan, juga memiliki karakter geografis yang sesuai.
“Kalau ini bisa dikembangkan di Trenggalek tentu menjadi catatan sejarah. Dan menjadi alternatif penghasilan di bidang pertanian,” tegasnya.
Untuk tahap awal di Pule, sekitar 150 kilogram bibit bawang putih ditanam dengan perlakuan khusus. Budidaya ini melibatkan puluhan petani dari delapan gabungan kelompok tani (gapoktan).
Metode penanaman relatif menyerupai bawang merah, namun bawang putih membutuhkan perawatan khusus agar pertumbuhannya optimal. Dengan perlakuan yang tepat, bawang putih ditargetkan dapat dipanen sekitar tiga bulan setelah penanaman.
Bagi Pemerintah Kabupaten Trenggalek, keberhasilan tahap awal ini akan menjadi pijakan untuk mengembangkan lebih lanjut dalam skala yang lebih luas. Jika produktivitas sesuai harapan, bawang putih tidak hanya akan menjadi komoditas baru bagi petani pegunungan Trenggalek, tetapi juga mendukung ketahanan pangan daerah serta mengurangi ketergantungan pada bawang putih impor.





