Respon Tegas DPD PDI: Dolar Serang Dapur Rakyat!

Jakarta, Maret.id — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di Nganjuk mengenai kondisi ekonomi masyarakat desa yang mengatakan bahwa “rakyat desa nggak pakai dolar” menarik untuk dicermati lebih dalam. Hal ini merupakan upaya untuk menjaga optimisme di tengah tekanan ekonomi global yang semakin kuat dan pelemahan rupiah yang membuat banyak pihak khawatir.
Peran Optimisme dalam Ketidakpastian Ekonomi
Dalam situasi global yang ditandai dengan ketidakpastian, sangat penting bagi negara untuk menjaga kepercayaan diri masyarakat. Indonesia memiliki keunggulan, seperti konsumsi domestik yang besar, ikatan sosial yang kuat di desa, serta budaya gotong royong yang dapat menjadi penyangga saat kondisi ekonomi memburuk.
Pesan optimisme memang penting bagi stabilitas psikologis masyarakat, namun gejolak ekonomi global menyentuh kehidupan sehari-hari dengan cara yang tidak terduga. Pengaruh dari nilai dolar tidak lagi terbatas pada transaksi keuangan antarnegara, tetapi telah meresap ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari biaya produksi pertanian hingga belanja harian di pasar tradisional.
Kenaikan Harga dan Dampaknya bagi Masyarakat Desa
Dalam banyak daerah pedesaan, dampak dari kondisi ekonomi global mulai dirasakan. Para petani mengeluhkan kenaikan harga pupuk; nelayan merasakan besarnya biaya melaut; dan pedagang tahu tempe sudah mulai terbebani oleh tingginya harga kedelai. Ibu rumah tangga pun kini harus berjuang menghadapi meningkatnya biaya kebutuhan sehari-hari.
Pelemahan rupiah telah menjadi bagian dari realitas yang dihadapi oleh masyarakat. Tidak ada satu penyebab tunggal yang menimbulkan persoalan ini. Selain melemahnya nilai tukar, ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, juga memengaruhi jalur energi global yang sangat strategis. Situasi ini tentu berpotensi memperburuk kondisi ekonomi domestik.
Ketergantungan Terhadap Impor dan Dampak Energi Global
Pasar energi global biasanya bereaksi cepat saat situasi di kawasan tersebut memanas, yang mengakibatkan harga minyak melonjak. Dalam kondisi seperti ini, negara-negara yang mengimpor energi, termasuk Indonesia, juga akan merasakan dampaknya. Akibatnya, tekanan terhadap perekonomian domestik semakin berlapis.
Dari sektor pertanian, misalnya, data menunjukkan bahwa kelompok petani yang paling cepat merasakan dampak dari meningkatkan biaya produksi. Harga pupuk, yang sangat dipengaruhi oleh harga pasar internasional, mengalami lonjakan yang signifikan. Bank Dunia bahkan memperkirakan bahwa konflik geopolitik serta harga energi yang melambung bisa membuat harga pupuk global naik hingga 31 persen pada tahun 2026.
Pernyataan Prabowo dapat dipahami sebagai upaya untuk mendorong semangat optimisme dalam situasi yang sulit ini. Namun, kebijakan yang diambil dalam menghadapi tantangan global tersebut harus berlandaskan pada pengendalian yang hati-hati dan terencana agar tidak memperburuk kepanikan pasar.
Tanpa upaya untuk menguatkan sektor produksi domestik, ketergantungan pada impor akan terus menghantui perekonomian Indonesia. Hal ini bertentangan dengan idealisme untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional. Masyarakat desa, yang mayoritas menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan perikanan, membutuhkan perlindungan dari fluktuasi pasar global yang tidak terduga.
Pada akhirnya, optimisme ekonomi tidak cukup hanya dibangun dari narasi positif, melainkan juga dari tindakan nyata untuk melindungi rakyat dari gejolak internasional. Ketahanan sosial di desa akan semakin kuat jika negara dapat mengurangi ketergantungan pada impor, sehingga risiko gejolak global dapat diminimalisir dan masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang.





